Pendidikan

ITS Kembangkan RRekon VR, Media Edukasi Rekonstruksi Bencana Berbasis Gamifikasi

17
×

ITS Kembangkan RRekon VR, Media Edukasi Rekonstruksi Bencana Berbasis Gamifikasi

Sebarkan artikel ini
ITS
Perwakilan BPBD Jatim (kiri) saat mengamati tahap uji coba RRekon VR oleh siswa SMPN 32 Surabaya.

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur (BPBD Jatim) mengembangkan aplikasi RRekon VR, sebuah inovasi berbasis virtual reality untuk edukasi rekonstruksi pascabencana.

Aplikasi tersebut telah melewati tahap uji coba kepada siswa SMPN 32 Surabaya pada Rabu (25/2/2026).

Ketua Tim Peneliti RRekon VR ITS, Okta Putra Setio Ardianto, mengatakan inovasi ini lahir dari kebutuhan BPBD Jawa Timur untuk memperluas pemahaman masyarakat tentang tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

Selama ini, edukasi kebencanaan cenderung berhenti pada aspek mitigasi dan evakuasi. Padahal, fase rekonstruksi menentukan kecepatan dan kualitas pemulihan wilayah terdampak.

Teknologi berbasis virtual reality, menurut Okta, dipilih karena menawarkan pengalaman belajar yang imersif.

Tidak hanya mengandalkan audio dan visual, tetapi juga melibatkan respons kinetis pengguna.

“Keterlibatan berbagai indra ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat secara lebih mendalam,” ujarnya.

Dalam simulasi tersebut, pengguna diposisikan sebagai petugas BPBD Jawa Timur yang bertugas menyusun langkah rekonstruksi.

Mereka dihadapkan pada berbagai skenario kerusakan dan keterbatasan sumber daya.

Biaya rekonstruksi yang besar menuntut perencanaan matang dan penentuan prioritas sektor secara rasional.

RRekon VR dirancang untuk melatih sensitivitas sekaligus ketepatan pengambilan keputusan dalam situasi tersebut.

Aplikasi ini mengusung pendekatan gamifikasi dengan dua mode utama, yakni observasi dan maket. Pada mode observasi, pengguna seolah berada langsung di lokasi bencana untuk mengidentifikasi tingkat kerusakan di lapangan.

Sementara itu, mode maket menyajikan gambaran menyeluruh wilayah terdampak dalam bentuk visual tiga dimensi, sehingga pengguna dapat melihat keterkaitan antarsektor secara komprehensif.

Okta menjelaskan, kolaborasi dengan BPBD Jatim dan SMPN 32 Surabaya menjadi bagian penting dalam penyempurnaan aplikasi sebelum dirilis secara resmi di Taman Pendidikan Bencana (Tenpina) BPBD Jawa Timur.

Uji coba kepada siswa dinilai krusial untuk mengukur efektivitas media ini dalam meningkatkan literasi kebencanaan sejak usia dini.

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Provinsi Jawa Timur, Dhany Aribowo, menilai inovasi ini menjawab kekosongan dalam praktik edukasi kebencanaan.

“Selama ini edukasi yang ada masih berfokus pada pencegahan bencana dan proses evakuasi saat bencana terjadi,” katanya.

Menurut Dhany, perhatian publik terhadap fase rehabilitasi dan rekonstruksi masih minim.

Banyak relawan maupun masyarakat berhenti pada tahap tanggap darurat, padahal proses pemulihan membutuhkan keterlibatan kolektif dan perencanaan jangka panjang.

Media berbasis VR seperti RRekon dinilai dapat membuka perspektif baru tentang pentingnya membangun kembali wilayah terdampak secara terstruktur.

Ia juga melihat potensi aplikasi ini sebagai instrumen pelatihan internal bagi petugas BPBD.

Dalam jangka panjang, RRekon VR direncanakan menjadi media pembelajaran bagi surveior pascabencana.

Dengan memanfaatkan data nyata dan simulasi digital, petugas diharapkan lebih terampil mengidentifikasi tingkat kerusakan dan menentukan prioritas penanganan secara objektif.

Kepala SMPN 32 Surabaya, Moh Bisri, menyambut uji coba tersebut sebagai bagian dari integrasi teknologi dalam pembelajaran.

Ia menilai pendekatan berbasis virtual reality selaras dengan kebutuhan generasi digital.

“Harapannya, inovasi dan kegiatan serupa tidak berhenti di sini dan selalu ada keberlanjutan,” ujarnya.

Inovasi ini melibatkan kolaborasi lintas departemen di ITS bersama BPBD Jatim dan SMPN 32 Surabaya. Secara substansi, pengembangan RRekon VR sejalan dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya poin ke-11 tentang Kota dan Komunitas Berkelanjutan, poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta poin ke-17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Melalui pendekatan teknologi imersif, edukasi rekonstruksi pascabencana tidak lagi berhenti pada tataran wacana, melainkan bergerak menuju pengalaman belajar yang partisipatif dan berbasis simulasi nyata.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60