BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Mobilitas masyarakat menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah naik. Di wilayah operasional Surabaya, penjualan tiket kereta api untuk masa Angkutan Lebaran 2026 telah tembus 179.440 lembar atau 31 persen dari total 561.528 tempat duduk tersedia.
Data tersebut dihimpun untuk periode keberangkatan 11 Maret 2026 (H-10) hingga 1 April 2026 (H+10).
Angka penjualan diperkirakan terus bergerak naik seiring mendekatnya hari raya dan meningkatnya kebutuhan perjalanan mudik maupun arus balik.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 8 Surabaya menyatakan pemesanan tiket telah dibuka sejak 25 Januari 2026 pukul 00.00 WIB, atau H-45 sebelum keberangkatan.
Kebijakan ini memberi ruang bagi masyarakat untuk merencanakan perjalanan secara lebih terukur.
Manager Humas KAI Daop 8 Surabaya, Mahendro Trang Bawono, menyampaikan bahwa peluang memperoleh tiket masih terbuka, terutama bagi calon penumpang yang fleksibel dalam memilih tanggal dan kelas layanan.
Ia mencatat 18 Maret 2026 (H-3) sementara menjadi tanggal dengan penjualan tertinggi, yakni 17.545 tiket. Momentum tersebut lazim menjadi titik konsentrasi keberangkatan pemudik.
Sementara itu, pada fase arus balik mulai H+1 hingga H+10, tingkat keterisian tempat duduk menunjukkan tren kenaikan signifikan.
Proyeksi internal perusahaan memperkirakan puncak arus balik terjadi menjelang akhir masa libur Lebaran.
Dari sisi rute, sejumlah kota tujuan seperti Yogyakarta, Semarang, Ketapang, Bandung, dan Jakarta masih mendominasi pilihan pelanggan dari wilayah Surabaya dan sekitarnya.
Pola ini mencerminkan pergerakan masyarakat menuju pusat-pusat ekonomi dan daerah asal keluarga.
Perseroan juga mencatat tingginya respons terhadap program diskon tarif 30 persen untuk kelas ekonomi komersial.
Hingga kini, 43.820 tiket pada kategori tersebut telah terjual. Insentif tarif dinilai turut memperluas akses masyarakat terhadap transportasi kereta api selama periode Lebaran.
Untuk memastikan kelancaran operasional, KAI Daop 8 Surabaya melakukan rampcheck menyeluruh terhadap sarana perkeretaapian, menyiapkan awak sarana, serta memperkuat aspek kebersihan dan keamanan di stasiun maupun rangkaian kereta.
Monitoring okupansi dilakukan secara berkala guna menyesuaikan strategi layanan dengan dinamika permintaan penumpang.


















