BERITABANGSA.ID, JEMBER – Sebanyak 24 orang jemaah umroh asal Kabupaten Pamekasan, diduga menjadi korban penipuan Muhamad Hasan Basri Hasibin, pria berumur 35 tahun yang juga berasal dari Pamekasan.
Kabar tersebut datang dari Noval, pria asal Pamekasan yang menjadi pemandu jemaah umroh tersebut. Ia menceritakan, dirinya yang telah lama bekerja sebagai pemandu umroh di Mekkah, memberi kepercayaan kepada Hasan Basri untuk mengurus segala keperluan jamaah umroh.
“Saya mengenal saudara Hasan Basri sekitar 9 bulan lalu, dia meminta jamaah umroh kepada saya. “Kalau ada rombongan, kasihlah ke saya pak haji” begitu kata Hasan kepada saya. Lalu baru-baru ini, saya memberi kepercayaan kepada Hasan. Sebenarnya saya pribadi sudah ada rekanan tepercaya selama ini untuk mengurus segala keperluan jamaah umroh, namun karena kasihan dia minta, akhirnya saya pakai Hasan Basri,” kata Noval dalam sambungan telepon, Selasa 17 Februari 2026.
Noval meneruskan, dia kemudian menyuruh 24 orang jamaah umroh untuk mengirim pembayaran langsung rekening bank milik Muhamad Hasan Basri Hasibin.
Menurutnya, pembayaran dari jemaah umroh dilakukan secara mencicil, dan sudah lunas 3 bulan yang lalu.
“Saya menanyakan kesiapan ke saudara Hasan, dia jawab aman, begitu. Sampai hari keberangkatan, Hasan Basri mengaku tertipu dan tidak bisa memberangkatkan 24 jamaah haji, para jamaah sempat terlantar selama 2 hari di Bandara Soekarno Hatta (Bandara Soetta) Jakarta, saya bingung sementara para keluarga jamaah tahunya ke saya urusan umroh ini, akhirnya saya merogoh kocek sendiri dan berhutang sana-sini hingga akhirnya jamaah bisa berangkat ke Mekkah,” lanjut Noval.
Keterlambatan jemaah umroh yang diakibatkan terlantar selama 2 hari di Bandara Soetta, menurut pengakuan Noval, juga mengakibatkan dirinya merugi, hotel di Mekkah yang telah dibayar menggunakan uang pribadinya hangus, kamar hotel sia-sia tak terpakai.
“Setelah jamaah umroh sampai di Mekkah, kondisi keuangan saya sudah habis, saya harus hutang sana-sini agar kebutuhan jamaah umroh selama di sini (Mekkah) bisa dipenuhi, namun kurang layak. Sementara saya minta pertanggungjawaban saudara Hasan, dia terus berjanji saja. Akhirnya saya menyuruh keluarga di Pamekasan untuk melapor ke Polda Jawa Timur, namun laporan tidak bisa diproses karena yang melapor bukan saya langsung, melainkan orangtua saya, akhirnya polisi mendeteksi keberadaan Hasan Basri di Kelurahan Kuta Jaya, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Saya meminta bantuan saudara untuk menerjunkan tim ke sana (Tangerang) untuk melakukan langkah persuasif terlebih dahulu untuk segera mengembalikan uang, karena jujur untuk makan dan akomodasi jemaah umroh hingga tiket pesawatnya ini sudah tidak ada, saya sendiri sudah kehabisan uang, hutang sana-sini sudah banyak,” lanjut Noval.
Noval mengaku menderita kerugian hingga ratusan juta rupiah. Dia akan menempuh jalur hukum, apabila langkah persuasif tidak ada hasil.
“Total uang yang sudah ditransfer ke rekening bank milik saudara Muhamad Hasan Basri Hasibin itu Rp435 juta,” ujar Noval.
Sementara itu, Beritabangsa menghubungi nomor seluler Muhamad Hasan Basri Hasibin, tidak dijawab.


















