Pendidikan

Energi Surya Masuk Laut, ITS Siapkan Model Listrik Mandiri Untuk Desa Pesisir

25
×

Energi Surya Masuk Laut, ITS Siapkan Model Listrik Mandiri Untuk Desa Pesisir

Sebarkan artikel ini
ITS
Ketua Tim Peneliti Solar2Wave Indonesia Prof Dr I Ketut Aria Pria Utama MSc (pegang pengeras suara) saat menyampaikan sambutan pada kunjungan daerah percontohan Solar2Wave di Gili Ketapang, Probolinggo

BERITABANGSA.ID, PROBOLINGGO – Laut tak lagi sekadar ruang tangkap ikan. Di perairan dangkal Gili Ketapang, Probolinggo, panel-panel surya mulai mengapung, menandai babak baru transisi energi bersih di kawasan pesisir.

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bersama mitra Inggris mengembangkan proyek Solar2Wave, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) apung nearshore pertama di Indonesia.

Proyek ini merupakan hasil kolaborasi pemerintah Indonesia dan Inggris melalui Innovate UK. Gili Ketapang dipilih sebagai lokasi percontohan karena karakteristiknya merepresentasikan tantangan energi di wilayah kepulauan: akses terbatas, biaya distribusi tinggi, dan ketergantungan pada genset diesel.

PLTS berkapasitas 27,2 kilowatt tersebut dirancang untuk beroperasi di wilayah pesisir dangkal yang relatif aman dari gelombang ekstrem.

Sistem ini ditargetkan mampu mengurangi konsumsi solar sekaligus memperkuat ketahanan energi masyarakat.

Ketua Tim Peneliti Solar2Wave Indonesia, Prof I Ketut Aria Pria Utama, menjelaskan bahwa kunjungan lapangan dilakukan untuk memastikan kesiapan teknis sebelum fasilitas diserahkan ke masyarakat.

ITS
PLTS apung nearshore Solar2Wave yang sudah terpasang di Gili Ketapang sebagai daerah percontohan.

Menurutnya, proyek ini tidak sekadar instalasi teknologi, melainkan model pemberdayaan energi berbasis komunitas.

“Dalam waktu sekitar satu bulan, sistem sudah bisa dimanfaatkan warga. Pengelolaannya akan berbasis Badan Usaha Milik Desa agar manfaat ekonominya langsung dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Skema tersebut memungkinkan listrik dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga hingga kegiatan produktif.

Salah satu yang paling mendesak adalah produksi es untuk pengawetan ikan. Selama ini, nelayan harus menanggung biaya tinggi akibat pasokan listrik berbasis bahan bakar fosil.

Innovation Lead Energy Innovate UK, Jillian Henderson, menilai proyek ini memiliki nilai strategis karena menyasar dua isu sekaligus: perubahan iklim dan ketahanan ekonomi nelayan.

Tantangan terbesar, kata dia, justru ada pada aspek komunikasi dan literasi teknologi. “Masyarakat perlu memahami cara kerja dan manfaatnya agar sistem ini berkelanjutan,” tuturnya.

Kepala Desa Gili Ketapang, Monir, berharap kehadiran PLTS apung ini mampu menjadi solusi jangka panjang bagi kebutuhan listrik desa.

Ia optimistis energi yang lebih stabil akan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan warga.

Solar2Wave melibatkan sejumlah mitra, mulai dari perguruan tinggi dalam dan luar negeri hingga industri galangan kapal dan perusahaan teknologi energi.

Kolaborasi multipihak ini memperlihatkan bahwa inovasi energi tidak bisa berjalan sendiri, melainkan membutuhkan sinergi riset, industri, dan masyarakat.

Jika proyek percontohan ini berhasil, model PLTS apung nearshore berpotensi direplikasi di berbagai wilayah pesisir Indonesia.

Bagi ITS, langkah ini menegaskan posisi kampus sebagai motor inovasi yang tidak berhenti di laboratorium, tetapi hadir langsung menjawab kebutuhan riil masyarakat.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60