BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Dalam rangkaian perayaan Dies Natalis ke-71, Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian budaya lokal melalui penyelenggaraan Gebyar Langgam Orang Madura (GeLORa).
Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (13/11/2025) di Airlangga Convention Center (ACC) Kampus MERR-C, dengan menghadirkan ragam ekspresi budaya Madura yang sarat makna dan filosofi.
Sekretaris Universitas Airlangga, Profesor Doktor Dwi Setiawan, yang hadir mewakili Rektor, menegaskan bahwa GeLORa menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali semangat kebangsaan melalui pelestarian nilai-nilai lokal.
Ia menyebut kegiatan tersebut sebagai hasil kolaborasi berbagai lembaga di lingkungan UNAIR yang memiliki komitmen terhadap kebudayaan.
“Budaya Madura mengajarkan kita nilai-nilai luhur seperti keberanian, kesetiaan, kerja keras, dan penghormatan terhadap kemajuan bangsa. Nilai-nilai ini justru semakin relevan di tengah arus globalisasi dan benturan budaya asing yang kerap menenggelamkan identitas lokal kita,” ujar Dwi.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai penggerak pelestarian budaya yang berkelanjutan.
Unair, lanjutnya, terus berupaya membangun generasi muda yang berbudaya, berkarakter, dan berkelanjutan, yang ia sebut sebagai generasi Tunas Hijau.
“Mereka bukan hanya mencintai budaya, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi kekuatan ekonomi kreatif, diplomasi kebudayaan, dan inovasi sosial,” imbuhnya.
Sementara itu, penanggung jawab kegiatan GeLORa, Profesor Doktor Bambang Tjahjadi, menjelaskan bahwa pemilihan tema budaya Madura tahun ini memiliki makna mendalam.
Menurutnya, Madura memiliki kontribusi besar dalam membentuk karakter budaya masyarakat Jawa Timur.
“Jawa Timur memiliki tiga pilar budaya utama: Mataraman, Arek, dan Pandalungan. Budaya Madura menjadi unsur penting yang mewarnai ketiganya, terutama dalam karakteristik bahasa dan kehidupan sosial masyarakat,” terang Bambang.
Ia juga menambahkan bahwa GeLORa telah menjadi tradisi tahunan Universitas Airlangga sejak 2015, dengan setiap tahun mengangkat tema budaya yang berbeda.
Sebelumnya, GeLORa pernah menyoroti budaya Jawa Timuran, Majapahit, hingga budaya pesantren.
“Dalam setiap perayaan budaya, kami selalu menghadirkan unsur-unsur yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, seperti batik, wayang, tari, dan keris. Tahun ini, semua unsur itu kami tampilkan dalam konteks budaya Madura yang sangat kaya,” ujarnya.
Pada perayaan GeLORa 2025 ini, para pengunjung disuguhi beragam pementasan seni khas Madura, mulai dari wayang orang berbahasa Madura, pameran lukisan dan fotografi, hingga sajian batik, pusaka, serta kuliner tradisional khas Madura.
Ia menyebut, melalui GeLORa, Universitas Airlangga kembali menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga berkomitmen menghidupkan semangat kebangsaan melalui pelestarian dan inovasi budaya lokal yang berkelanjutan.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id


















