Anugerah yang terkandung dalam sumber daya alam ini menjadi aset berharga dalam pengembangan diversifikasi bahan pangan lokal. Penganekaragaman bahan pangan lokal sekaligus menjadi arah baru pembangunan sistem pangan menuju kedaulatan pangan serta agar tak hanya bergantung pada satu komoditas pangan. Transformasi sistem pangan yang berdaulat menjadi keniscayaan untuk menghindari guncangan pasar global.
Beragam produk kreatif lokal dari Kota Batu dipamerkan di sana. Beragam produk itu juga meliputi 21 subsektor ekraf. Mulai kuliner, fesyen, kerajinan, inovasi agrokreatif bahkan musik dan film besutan kreator muda Kota Batu.
Menurut Kabid Ketahanan Pangan Distan-KP Kota Batu, Lestari Aji, festival pangan lokal ini dalam rangka mewujudkan keberagaman bahan pangan di Kota Batu. Pihak dinas mengikutsertakan penggerak PKK dan Kelompok Tani Wanita (KWT) se-Kota Batu. Para peserta berkreasi mengolah bahan pangan lokal lokal di Kota Batu. Bahan pangan yang digunanakan dibatasi agar memakai bahan pangan non beras dan terigu.
“Tapi lebih pada bahan pangan lokal hasil bumi Kota Batu, seperti kentang atau wortel. Dengan kegiatan ini diharapkan produk lokal semakin dikenal dan menjadi peluang usaha di bidang kuliner,” terang Aji.

Lebih lanjut, Aji menuturkan, setiap tahunnya Distan-KP gencar memberikan pelatihan dalam mengolah bahan pangam lokal agar tidak bergantung pada satu komoditas pangan. Serta agar masyarakat bangga dan menghargai kearifan lokal dalam memanfaatkan keanekaragaman hayati dalam memenuhi kebutuhan nutrisinya.
“Jadi diversifikasi ini untuk menunu kedaulatan pangan berbasis bahan-bahan pangan lokal. Produk olahan makanan ini juga bukan sekedar sajian, tapi juga menjadi afirmasi identitas kultural,” tukasnya.
”Kehadiran Kemen Ekraf merupakan support yang sangat luar biasa bagi kami untuk kami memperkuat jejaring kota kreatif di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Cak Nur, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa Local Fest menjadi ruang ekspresi anak muda kreatif dari musik, kuliner, hingga karya digital. Mereka menunjukan kreatifitas bukan sekadar hiburan melainkan energi ekonomi baru yang menghidupi masyarakat Kota Batu dan sekitarnya.
Local Fest #7 sendiri mengambil tema Egalitarian yang juga selaras dengan tema ICCF 2025, bahwa bagaimana kita mampu menata ulang kekuatan lokal agar tumbuh berkelanjutan, mandiri, dan berdaya saing.
Ia menegaskan, bahwa kreativitas tidak hanya tumbuh di kota besar, tapi juga di daerah dengan akar budaya kuat. Menurut Cak Nur, Kota Batu telah tumbuh dengan karakter gastronominya. Dari total 2.897 UMKM, sebanyak 331 pelaku usaha telah naik kelas melalui inovasi kuliner berbasis hasil bumi. Produk-produk ini, katanya, membawa cita rasa Kota Batu hingga ke pasar internasional.
“Melalui pelatihan dan pendampingan, kami terus dorong pelaku kuliner agar berdaya saing global, tanpa meninggalkan akar budaya dan nilai keberlanjutan,” ujarnya.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id


















