BERITABANGSA.ID, MADIUN – Perempuan pekerja di tempat hiburan malam (THM) biasa disebut LC, kepanjangan dari Lady Companion. Mereka identik cantik, seksi, ceria, dan enerjik.
Yang dibutuhkan dari sosok LC adalah membuat pelanggan THM ini kerasan. Sosoknya harus ceria, penuh senyum dan menyenangkan. Mereka ditugasi menemani pelanggan, memandu karaoke, hingga menemani minum.
Namun di balik tawa, cekikikan dan senyumannya, tak banyak yang tahu kondisi kehidupannya.
Sebut saja R (23), LC di salah satu THM di Kota Madiun. Gadis seksi berpenampilan menarik ini mengakui kehidupannya saat bekerja seolah tidak ada masalah.
Setiap hari dia harus memasang wajah penuh suka dan ceria. Namun di balik itu kata dia, tidak sedikit yang terpaksa menggeluti profesi ini karena tuntutan ekonomi.
Banyak dari rekan mereka yang terjun ke LC karena menjadi tulang punggung keluarga, ada pula yang terjebak karena keterbatasan pilihan pekerjaan.
Pekerjaanya identik kesenangan. Dia pun mengaku sangat senang meski di awal agak kagok atau canggung. Lama kelamaan bisa menikmatinya.
Tak jarang dia mendapat tamu yang luman alias dermawan. Hanya disuruh nemani saja, dalam dua tiga jam dia sudah mendapat saweran untuk dibawa pulang Rp500 ribuan. Itu pun belum gaji hariannya.
“Kalau tamu baik, kita juga bisa kerja dengan tenang. Tapi kalau tamu kasar, itu yang bikin berat,” ujar R, Selasa 16 September 2025 pukul 02.45 WIB.
Yang tidak enak lagi, di lingkungan masyarakat kampungnya profesi LC masih dicap sebagai profesi wanita penghibur.
Bahkan LC disamakan dengan prostitusi. Padahal, tidak semua pemandu karaoke terjerumus seperti itu. Banyak dari mereka yang hanya berperan sebagai teman ngobrol dan pemandu lagu.
“Kita tetap manusia biasa, punya harga diri, punya keluarga. Hanya saja jalan hidup memaksa kami berada di sini,” tambahnya.
Beda dengan S (22). Dia menjadi LC sejak 3 lalu. Cuan yang didapat selama menjadi LC lumayan besar. Tak butuh waktu lama dia jadi pemandu lagu favorit.
Selama menjalani profesi LC, dia berprinsip bekerja benar dan teguh pendirian. Dia juga merasa senang karena banyak mendapat pengalaman berharga berinteraksi dengan berbagai karakter orang.
“Aku jadi bisa cepat membaca sifat orang, tahu mana yang tulus mana yang cuma main-main,” akunya.
Kehidupan sebagai LC ibarat dua mata pisau: di satu sisi bisa menjanjikan penghasilan, namun di sisi lain menyisakan tekanan mental, fisik, dan stigma.
Jalan hidup yang tidak semua orang bisa menjalaninya. Sebagian dari perempuan, LC adalah menjadi pilihan profesi untuk bertahan hidup.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id


















