BERITABANGSA.ID, MADIUN – Keraguan terhadap mobil berusia lebih dari dua dekade pudar. Demikian diungkap oleh Wahyu (47), warga Kota Madiun, setelah mengendarai Mitsubishi Grandis 2005 sebulan terakhir.
Sebelum membeli, Wahyu mengaku sempat diliputi berbagai pertimbangan. Selain usia kendaraan yang sudah tidak muda dan statusnya yang tidak lqùdiproduksi pabrikan, ia juga mengkhawatirkan konsumsi bahan bakar, ketersediaan suku cadang, hingga keberadaan bengkel spesialis di kota kecil seperti Madiun.
“Awalnya saya ragu. Mobilnya sudah tua, produksinya juga sudah berhenti. Saya juga berpikir soal BBM, spare part, dan bengkel yang benar-benar paham Grandis,” ujar Wahyu, Senin (06/07/2026).
Namun, keraguan tersebut sirna setelah melakukan uji coba berkendara. Menurutnya, kesan pertama langsung membuatnya terpikat karena kabin yang senyap serta kenyamanan yang sulit ditemukan pada kendaraan sekelasnya.
Usai membeli mobil tersebut, Wahyu langsung melakukan perawatan awal dengan mengganti oli mesin, oli transmisi otomatis, serta melakukan servis menyeluruh agar kondisi kendaraan tetap prima.
Sejak saat itu, Grandis digunakan sebagai kendaraan harian hingga perjalanan ke luar kota. Hasilnya di luar dugaan.
“Selama dipakai, anggapan orang soal Grandis ternyata banyak yang keliru. Konsumsi BBM masih tergolong wajar, apalagi saat melaju di jalan tol. Mobil juga sangat stabil. Saya pernah mencoba kecepatan hingga sekitar 170 kilometer per jam, tetap tenang dan tidak limbung. Penumpang bahkan bisa tidur nyenyak karena kabinnya nyaman dan minim suara,” ungkap Wahyu sambil tersenyum.
Tak hanya itu, sistem pendingin kabin juga menjadi salah satu keunggulan yang paling dirasakan.
“AC-nya benar-benar dingin seperti di kutub. Kalau perjalanan jauh tanpa jaket bisa-bisa masuk angin,” candanya.
Berdasarkan pengalaman pribadinya, Wahyu juga menilai konsumsi bahan bakar Mitsubishi Grandis dengan BBM Pertalite masih kompetitif. Bahkan setelah dihitung, menurutnya penggunaan BBM pada Toyota Innova berbahan bakar Pertalite justru terasa lebih boros dibanding Grandis.
“Bukan berniat menjatuhkan salah satu merk mobil, tetapi bisa dibuktikan sendiri konsumsi bbm nya”, tegas Wahyu.
Sementara itu, Saeful, mekanik spesialis Mitsubishi yang membuka bengkel di Jalan Kantil Gang 1, Dusun 3, RT 18 RW 06, Desa Ngreco, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, mengatakan Mitsubishi Grandis merupakan salah satu produk terbaik yang pernah dibuat Mitsubishi.
“Grandis itu istimewa, tidak seperti anggapan banyak orang. Onderdilnya memang ada yang sedikit lebih mahal, tetapi kualitasnya sangat awet, bahkan bisa bertahan bertahun-tahun. AC-nya juga terkenal dingin, sementara kualitas interiornya benar-benar premium,” jelas Saeful.
Menurutnya, Grandis menawarkan kualitas kendaraan kelas premium dengan harga yang kini sudah terjangkau.
“Kalau sekarang bisa dibilang mobil premium dengan harga yang sudah ramah untuk kalangan UMKM,” katanya.
Selain menangani Mitsubishi, Saeful juga melayani berbagai kendaraan Eropa maupun mobil-mobil Jepang lainnya dengan biaya servis yang tetap terjangkau.
“Saya buka bengkel di desa, jadi tidak mungkin memasang tarif seperti di kota. Dulu saya bekerja di dealer Mitsubishi Jakarta, kemudian setelah menikah memutuskan pulang kampung dan membuka bengkel di Madiun,” tuturnya.
Ia menambahkan, meski diproduksi pada pertengahan 2000-an, fitur Mitsubishi Grandis sudah jauh melampaui zamannya. Mobil ini telah dibekali spion elektrik lipat (retract), fitur heater pada sistem AC, hingga sistem audio bawaan dengan kualitas suara yang menyerupai penggunaan subwoofer.
“Grandis memang luar biasa. Di zamannya sudah sangat modern dan banyak fiturnya yang bahkan baru umum digunakan beberapa tahun setelahnya,” pungkasnya.


















