Terkini

Kajian Subuh Masjid Al-Haq: Memahami Takdir dalam Perspektif Progresif dan Ilmiah

20
×

Kajian Subuh Masjid Al-Haq: Memahami Takdir dalam Perspektif Progresif dan Ilmiah

Sebarkan artikel ini
Kajian Subuh
Ustaz Ir H. Agus Mustofa saat menyampaikan materi.

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Kajian subuh yang rutin digelar setiap Minggu terakhir di Masjid Al-Haq, Rungkut Mapan Barat, Surabaya, kian hari kian menarik minat jamaah.

Pada edisi kali ini, Ustaz Ir. H. Agus Mustofa kembali hadir sebagai pemateri, mengangkat tema “Mengubah Takdir”.

Dalam penyampaiannya , Agus Mustofa mengurai pemahaman konseptual takdir dari sudut pandang Al-Qur’an dan rasionalitas ilmiah.

Ia menegaskan bahwa selama ini banyak umat Islam yang keliru memahami takdir sebagai sesuatu yang mutlak dan tidak dapat diubah, sehingga kerap dijadikan alasan untuk bersikap pasrah tanpa melakukan upaya perbaikan diri dan lingkungan.

“Takdir justru merupakan konsep yang produktif dan mendorong umat Islam untuk berjuang dan bertanggung jawab atas pilihannya,” ungkapnya di hadapan jamaah.

Merujuk pada Surah Ar-Ra’d ayat 11, ia menekankan bahwa perubahan hanya akan terjadi jika individu mengambil peran aktif dalam mengubah keadaannya sendiri. “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri,” kutipnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan ayat dalam Surah Al-Mudatsir ayat 37–38, yang menyatakan bahwa setiap manusia bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya.

Menurutnya, ayat-ayat tersebut menegaskan adanya kehendak bebas dalam batasan tertentu, serta adanya pertanggungjawaban atas segala keputusan yang diambil dalam kehidupan.

Agus Mustofa menjelaskan bahwa dalam Islam, konsep takdir terdiri atas dua komponen utama: Qadar dan Qadha. Qadar adalah ketetapan awal dari Allah, mencakup hal-hal yang tidak dapat dipilih oleh manusia, seperti tempat kelahiran, jenis kelamin, atau struktur semesta.

Sementara Qadha adalah bentuk aktualisasi dari upaya manusia dalam menjalani hidup dan mengubah kondisi berdasarkan kehendaknya.

“Qadar adalah desain awal, sedangkan Qadha adalah ikhtiar manusia untuk menciptakan hasil baru yang kemudian ditentukan oleh Allah. Kombinasi keduanya membentuk dinamika takdir,” jelasnya.

Dari sisi ilmiah, ia menyoroti bagaimana sikap mental dan spiritual yang positif dapat berdampak langsung pada kesehatan fisik.

Ia menjelaskan bahwa sedekah dan silaturahmi bukan hanya amalan yang berpahala secara spiritual, tetapi juga memberi efek fisiologis yang menyehatkan tubuh manusia.

Hormon-hormon yang dihasilkan dari rasa syukur, bahagia, dan damai berkontribusi besar terhadap keseimbangan sistem tubuh.

“Sikap yang penuh kemarahan, dendam, dan kebencian akan merusak sistem hormon kita, yang berpotensi memicu penyakit seperti gangguan jantung dan ginjal. Sebaliknya, sedekah dan silaturahmi menciptakan suasana batin yang damai dan sehat, sehingga dapat memperpanjang usia secara ilmiah,” paparnya.

Dalam konteks ini, takdir tidak lagi dilihat sebagai tembok tak terlihat yang membatasi gerak, melainkan sebagai kerangka kerja dinamis yang dapat dioptimalkan melalui kesadaran spiritual dan usaha nyata.

Seorang muslim dituntut untuk aktif mengambil peran dalam kehidupannya dengan tetap menyadari bahwa hasil akhir tetap berada dalam ketetapan ilahi.

Dengan demikian, pemahaman terhadap Qadar dan Qadha bukan hanya membentuk ketundukan kepada Tuhan, tetapi juga menggerakkan umat untuk menjadi agen perubahan yang bertanggung jawab dan berdaya saing.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60