BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Penunjukan Rayyan Arkan Dhika, bocah penari Pacu Jalur asal Riau, sebagai Duta Wisata Provinsi Riau menuai beragam tanggapan dari masyarakat.
Di tengah gelombang apresiasi atas popularitas dan keluguannya, muncul pula catatan kritis mengenai pentingnya proses objektif dalam pengangkatan seorang duta pariwisata.
Guru Besar Bidang Ilmu Industri Pariwisata dan Perhotelan Universitas Airlangga, Profesor Doktor Bambang Suharto S menyampaikan bahwa posisi duta wisata seharusnya tidak diberikan semata-mata karena viralitas.
Ia menekankan perlunya mekanisme yang terstruktur, berbasis kompetensi, serta disertai pembekalan substansial bagi calon duta.
“Tradisi seperti Pacu Jalur sangat luar biasa. Ini momen penting untuk mengangkat kearifan lokal dari Sabang sampai Merauke. Tapi yang kita butuhkan bukan hanya viralitas, melainkan proses yang melibatkan pemahaman budaya, kemampuan komunikasi, dan pembekalan yang tepat,” ujar Prof Bambang saat ditemui di Surabaya, Selasa siang.
Ia menggarisbawahi bahwa popularitas bisa menjadi pemicu, namun tidak seharusnya menjadi satu-satunya pertimbangan.
Dalam pandangannya, tugas seorang duta wisata jauh lebih kompleks dari sekadar menjadi ikon. Duta wisata memiliki tanggung jawab untuk mengenalkan, mengembangkan, dan memperkuat daya saing pariwisata daerah secara berkelanjutan.
Menurut Bambang, pengangkatan duta perlu melibatkan sistem kaderisasi yang jelas dan berjenjang.
Pemerintah daerah diimbau tidak berhenti pada satu figur, melainkan mengembangkan ekosistem yang mampu melahirkan lebih banyak duta tematik, seperti di bidang seni, budaya, kuliner, hingga sportourism.
Ia juga menyarankan agar proses penunjukan duta wisata dilakukan secara transparan, melalui seleksi yang akuntabel dan pembekalan intensif oleh para ahli.
Ia mencontohkan pengalamannya ketika menjadi juri ajang Putri Pariwisata Indonesia, di mana peserta mendapatkan pelatihan langsung dari pakar-pakar nasional.
Lebih lanjut, ia mengusulkan pengelompokan berdasarkan usia agar peran duta lebih terarah.
Duta wisata anak, misalnya, dapat difokuskan pada promosi destinasi keluarga atau wisata edukatif. Namun tetap harus melalui proses yang sah dan terukur agar tidak hanya menjadi simbol viralitas.
“Boleh saja ada duta usia dini, asal fungsinya jelas. Tapi tetap harus ada prosesnya agar tidak hanya jadi simbol viral sesaat,” tegasnya.
Prof Bambang menambahkan bahwa seorang duta bukan sekadar perwakilan simbolik, melainkan promotor budaya yang memahami konteks dan potensi daerahnya.
Ia menekankan bahwa duta bukan milik personal atau golongan tertentu, tetapi milik masyarakat dan daerah yang diwakilinya.
“Kalau ini dikelola secara serius, saya yakin dunia akan terperangah melihat budaya kita. Tak hanya Pacu Jalur, tetapi juga ragam budaya dari Papua, Aceh, sampai Labuan Bajo. Indonesia bisa viral karena identitasnya sendiri,” pungkasnya.
Penegasan ini menjadi pengingat penting bahwa pemilihan duta wisata perlu diarahkan pada strategi jangka panjang dalam membangun promosi budaya yang kuat, bukan semata mengejar eksistensi sesaat di ruang digital.
Duta yang ideal adalah mereka yang memiliki positioning yang jelas, memahami pasar, dan mampu menyampaikan narasi kebudayaan dengan penuh tanggung jawab.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id.


















