Data yang berasal dari ayah kandung Bung Karno kata dia, adalah seperti SK tugas Raden Soekeni Sosrodiharjo sebagai mantri guru Sekolah Ongko Loro Ploso tertanggal 28 Desember 1901.
“Kemudian ada tulisan tangan Raden Soekeni yang menyatakan, Bung Karno lahir 6 Juni 1902. Kemudian ada pula data dari register pendaftaran Bung Karno di THS/ ITB, yang menuliskan Raden Soekarno lahir 6 Juni 1902,” beber Cak Arif.
Lantas, lanjut dia, sejumlah cerita tutur keluarga RM.Soerati Soemosewojo, ayah angkat Bung Karno menyebutkan, yang memegang bayi Soekarno usai lahir adalah Mbah Suro atau Kek Suro, dan yang mengubur ari-ari adalah Sumo Jani.
“Nama-nama di atas kami temukan di daerah Jombang. Mbah Suro atau Kek Suro adalah orang Kabuh Jombang. Nama lengkapnya, Mas Kiai Suro Sentono,” tandas Cak Arif.
Pada perkembangannya, sambung dia, penelusur sejarah, Binhad Nurrohmat alias Gus Binhad, dan sejumlah pihak juga mendapatkan sejumlah data yang semakin menguatkan Bung Karno lahir di Ploso.
“Kita menemukan makam Mbok Suwi dan Mbok Supiyah yang merupakan orang-orang yang mengasuh Bung Karno kecil saat tinggal di Ploso, juga menemukan makam Mbah Joyo Dipo, teman bermain Soekarno, serta sejumlah data lainnya,” urai Cak Arif.
Bahkan, lokasi sekolah Bung Karno terdeteksi di terminal Ploso saat ini. Foto-foto langka tentang sejarah Bung Karno dengan Ploso juga ditemukan.
Tak hanya itu, Cak Arif menambahkan, TACB Jombang pada 2024 juga telah merekomendasikan situs kelahiran Bung Karno di Ploso Jombang agar ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat kabupaten.
“Saya berharap, publik makin yakin dengan sejarah ini. Dan kita juga berharap Bupati Jombang dapat segera menetapkan situs kelahiran Bung Karno di Ploso Jombang ini sebagai cagar budaya,” pungkas Cak Arif.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id
















