Opini

Menghitung Hari Keajaiban

411
×

Menghitung Hari Keajaiban

Sebarkan artikel ini

Oleh : Liana Kurniawan (*)

MENEGANGKAN rasanya menjelang pemilihan serentak legislatif beberapa hari lagi.

Saya cukup antusias, bergairah, sekaligus ada rasa khawatir yang muncul seketika.

Jika saya menarik kenangan triwulan belakang, berlarut kesibukan yang melanda. Tenaga dan pikiran cukup dieksploitasi oleh beberapa kegiatan. Namun tetap dengan perasaan optimis meraih kemenangan di Senayan.

Bertubi agenda masuk di notif WhatsApp. Kampanye akbar beberapa kota di Jawa Timur harus saya ikuti.

Acara Flash Mob Gen Z Milenial di Pakuwon Mall, Surabaya hingga yang terbaru di GOR Ken Arok Malang, Kamis 1 Februari.

Namun rasa jembar menyelimuti hati tatkala memiliki tim yang sejauh ini cukup konsisten menemani hingga hari-hari pemilihan tiba. Anak-anak muda yang progresif, penuh semangat dan inovatif. Saya selalu menepis gelombang infantilisasi yang acapkali mengemuka dari masa ke masa. Di mana gerakan ini menganggap anak muda yang tidak bisa apa-apa, tak bisa dianggap serius dalam hirarki sosial kemasyarakatan.

Kenyataannya pemuda-pemuda itu selalu memberikan efek kejut yang tak pernah diduga oleh sebagian kalangan. Mereka energik, selalu menawarkan solusi yang kongkret yang tak pernah dilelangkan oleh kalangan tua. Mereka memiliki keluasan bacaan dan ketajaman telaah yang dipayungi integritas tinggi.

Doktrinasi infantil yang dilekatkan kepada anak muda cukup saya sesalkan. Generasi milenial dan Zoomer itu Sophisticated, bisa berfikir rumit namun tetap santai.

Boleh kita mengambil contoh pada dekade 50 an, anak-anak muda bangsa ini memiliki jiwa radikal, cerdas, berwawasan luas. Sebut saja Sutan Sjahrir, Soedjatmoko, Wikana, Sayuti Melik dan beberapa nama lain yang menyebar seantero negeri.

Singkat cerita saya selalu memberikan porsi lebih besar kepada anak muda. Mereka memberikan dampak yang begitu signifikan jika mereka diberikan peran lebih. Anak muda kita masih dihantui fakta bahwa rata-rata dari mereka hanyalah pekerja kerah biru yang tak bisa sekedar menikmati kopi di tempat mahal, tak bisa asyik bermain dengan gadget terbaru, hampa dari angan memiliki rumah di kawasan elit. Hal seperti itu cukup mengkhawatirkan.

(*) Penulis adalah Bendahara DPW PSI Jawa Timur.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi beritabangsa.id.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *