Selain itu, Rois Syuriah PCNU Jember ini juga menilai koalisi antara PKB dan NasDem tidak akan mempengaruhi ideologi masing-masing partai.
“Tidak akan terpengaruh. Nanti sama sama menjalankan keyakinan masing-masing. Tidak akan saling mempengaruhi,” tuturnya.
Dalam sejarahnya, kata Kiai Muhyiddin, para ulama besar NU pernah menempuh koalisi dengan kekuatan politik yang berideologi Islam kanan, yaitu bersama Masyumi, dan pernah juga berkoalisi dengan kekuatan politik yang berideologi kiri, yaitu Nasakom.
“Pada dekade terakhir, PKB berkoalisi dengan PDI Perjuangan, sehingga dari perspektif ideologi tidak menimbulkan masalah,” tutupnya.
Di sisi lain, pengasuh Pondok Pesantren AlKhozini, KH Muhammad Khozin, juga mengatakan hal yang senada dengan Kiai Muhyiddin.
Menurutnya, pasangan Anies-Muhaimin merupakan pasangan yang saling melengkapi, sehingga bisa menjadi jawaban tantangan permasalahan bangsa.
“Apalagi, Cak Imin merupakan sosok yang dikenal teruji di berbagai kalangan dalam menghadapi berbagai tantangan,” bebernya.
Tokoh yang akrab disapa Gus Khozin ini menilai, keduanya bisa membawa perdamaian dunia dari Indonesia yang selama ini digaungkan oleh PBNU, sebab Amin memiliki pengalaman yang sudah teruji dalam mewujudkan perdamaian itu.
“Dibanding Capres yang lain, tanpa mengurangi rasa hormat, kita lebih optimis dengan portofolio atau track record pasangan Anies-Muhaimin,” tutur Gus Khozin.
Di sisi lain, Bacapres Republik Indonesia, Anies Baswedan, mengatakan kedatangannya ke Kabupaten Jember dalam rangka silaturahmi kepada para ulama sekaligus meminta doa restu.
“Kami yakin, Insya Allah, jika semua kiai mendoakan, maka dwi tunggal ini akan meneruskan perjuangan orang tua kami dulu,” pungkasnya.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id


















