Kesehatan

Kasus PMK di Situbondo Terkecil se-Tapal Kuda, Tambahan Harian di Angka Nol

45
×

Kasus PMK di Situbondo Terkecil se-Tapal Kuda, Tambahan Harian di Angka Nol

Sebarkan artikel ini
PMK
Petugas mengecek kondisi sapi milik warga. Upaya tersebut dilakukan untuk memonitoring kasus PMK di kabupaten Situbondo

BERITABANGSA.COM-SITUBONDO- Upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Situbondo melawan penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kota Santri Pancasila benar-benar membuahkan hasil maksimal. Terbukti jumlah kasus PMK di Situbondo terkecil se-Tapal Kuda.

Bahkan, penambahan kasus harian PMK berada di angka nol. Begitu juga dengan kasus kematian. Jumlah sapi yang sakit hanya tersisa 121 ekor. Itu pun gejala ringan.

Sementara kasus PMK di Kabupaten tetangga masih tergolong tinggi. Seperti di Kabupaten Probolinggo, jumlah sapi yang sakit mencapai 8.916 ekor. Sementara di Bondowoso masih di angka 2.791, Jember 8.558, dan Banyuwangi 7.803 ekor.

“Dari kondisi kabupaten tetangga masih banyak yang sakit, maka kebijakan Satgas Kabupaten melanjutkan upaya penutupan pasar dua minggu sekali, dan membuka pasar dua minggu sekali,” ucap Plt Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Situbondo, Kholil.

Dia mengaku khawatir jika pasar dibuka secara terus menerus, sapi sakit dari daerah lain dibawa ke Situbondo. Tentu hal itu dapat meningkatkan jumlah sapi terpapar.

“Karena itu saya meminta maaf kepada teman-teman pedagang (atas kebijakan tersebut). Dan menurut kami kebijakan menutup pasar dua minggu, dan dua minggu dibuka, sangat efektif mengendalikan PMK. Terbukti sapi yang sakit paling kecil dibanding daerah tetangga,” tuturnya.

Lantas sampai kapan penutupan dua mingguan itu? Kata Kholil, baru 70 persen sapi-sapi di Situbondo telah divaksin, karena sisanya menunggu vaksin dari pusat.

“Nah sambil menunggu kiriman vaksin dari pemerintah pusat, kami gelontor pengobatan gratis dari APBD 2022 untuk 6.000 ekor. Kita obatkan sapi-sapi di Situbondo untuk mencegah PMK dan mendorong 121 sapi (terpapar PMK) menjadi nol,” ujarnya.

Wajar jika Disnakan mengambil sejumlah kebijakan, mempertahankan pembatasan lalu lintas ternak, mencegah ternak luar kabupaten yang tidak memiliki surat kesehatan dari Disnakan masuk ke Situbondo, dan menutup serta membuka pasar dua minggu sekali.

“Ibaratnya orang mengendarai mobil, ya digas dan direm. Bisnis peternakan bisa jalan walaupun agak terhambat, tetapi pengendalian PMK dapat berjalan baik,” ujarnya.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *