Struktur tersebut memungkinkan kotoran ayam jatuh langsung ke bagian bawah kandang sehingga proses pembersihan dan pemeliharaan menjadi lebih praktis.
Sistem ini juga dirancang untuk mengintegrasikan pengelolaan kotoran ayam dengan kolam lele. Integrasi tersebut menjadi bagian dari upaya tim dalam mengembangkan sistem peternakan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Di sisi lain, penggunaan pakan yang lebih terkelola diharapkan turut membantu menekan biaya operasional.
Futechi Farm mulai dikembangkan melalui riset pada awal Januari 2026. Inovasi tersebut kemudian mencatatkan penjualan perdana sebanyak dua unit platform dengan nilai total Rp 70 juta ke Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Tim juga berhasil menjual satu unit lainnya senilai Rp 35 juta ke Papua.
Pengembangan bisnis Futechi Farm mendapat pembinaan dari Inkubator dan Layanan Bisnis Inovatif (ILBI), Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) ITS.
Samsuddin menyebut pencapaian komersial tersebut turut didukung pendanaan Asian Development Bank (ADB) dan ITS melalui program HETI, serta pendampingan bisnis dari ILBI.
Sebagai profesional di bidang Manufacturing Designer, Samsuddin ingin teknologi peternakan modern dapat diakses oleh pelaku usaha yang tidak memiliki skala sebesar industri peternakan besar.
Menurut dia, penerapan teknologi perlu diarahkan untuk membantu peternak lokal meningkatkan efisiensi dan daya saing.
Sementara itu, Rektor ITS Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, S.T., M.Sc.Eng., Ph.D., menyatakan bahwa perguruan tinggi perlu mendorong hasil riset agar tidak berhenti pada konsep akademik, tetapi juga menjawab kebutuhan masyarakat dan pemerintah.
Melalui dukungan pendanaan, pembinaan, dan kemitraan, ITS berupaya mendorong inovasi mahasiswa agar memberikan dampak nyata bagi pengembangan sumber daya manusia dan perekonomian nasional.
Pengembangan Futechi Farm selanjutnya diarahkan pada pembentukan ekosistem digital yang menghubungkan berbagai aktivitas bisnis peternakan, mulai dari produksi hingga pemasaran dan akses pembiayaan.
Salah satu rencana yang disiapkan adalah pemasangan sensor penghitung telur pada conveyor agar jumlah produksi harian dapat tercatat secara otomatis melalui aplikasi Futechi Farm.
Tim juga merencanakan pengembangan distribusi pakan otomatis dari gudang menuju kandang serta sistem pendampingan peternakan berdasarkan usia dan kebutuhan ayam.
Di bidang pakan, mereka menjajaki pengembangan pakan berbasis mikroalga melalui kolaborasi riset dengan dosen Departemen Biologi ITS.
Selain itu, Futechi Farm akan diarahkan menjadi platform pemasaran yang mempertemukan peternak secara langsung dengan pembeli berskala besar, distributor, dan mitra industri.
Pengembangan tersebut diharapkan memperluas akses pasar sekaligus menghubungkan kebutuhan produksi peternak dengan peluang kemitraan usaha.
Inovasi ini sejalan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yakni SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.















