Pendidikan

Emil Dardak Dorong Mahasiswa Unusa Siap Masuk Indonesia Emas 2045

1
×

Emil Dardak Dorong Mahasiswa Unusa Siap Masuk Indonesia Emas 2045

Sebarkan artikel ini
UNUSA
Rektor Universitas Nahdlatul Ummah, Prof. Dr. Ir. Tri Yogi Yuwono, DEA, IPU, ASEAN.Eng (kiri) dan Wakil Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Emil Elestianto Dardak, B.Bus., M.Sc.

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengingatkan mahasiswa baru Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) bahwa Indonesia Emas 2045 bukan sekadar cita-cita yang masih berada di masa depan, melainkan agenda yang mulai dibangun sejak hari ini.

Dalam kuliah perdana Pengukuhan Mahasiswa Baru Unusa, Senin (7/9/2026), Emil menyampaikan bahwa mahasiswa yang memasuki perguruan tinggi pada 2026 akan berada pada usia sekitar 37 – 38 tahun ketika Indonesia memasuki momentum 2045.

Pada fase tersebut, mereka diharapkan telah menjadi profesional, inovator, maupun pemimpin yang turut menentukan arah bangsa.

“Indonesia Emas 2045 tidak dimulai dua puluh tahun lagi, tetapi dimulai hari ini,” kata Emil dalam kuliah bertema Naik Level, Menjadi Generasi Pembelajar, Penggerak, dan Pemberi Dampak Menuju Indonesia Emas 2045.

Emil mengajak mahasiswa tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga membangun kapasitas diri agar mampu menghadapi perubahan dunia yang berlangsung semakin cepat.

Menurut dia, perkembangan teknologi dan perubahan global menuntut generasi muda memiliki kemampuan beradaptasi secara berkelanjutan.

Ia menjelaskan bahwa artificial intelligence (AI), otomasi, transformasi digital, perubahan ekonomi, dinamika sosial, hingga persoalan iklim, energi, pangan, dan kesehatan akan memberikan pengaruh besar terhadap dunia kerja.

Mengutip World Economic Forum Future of Jobs Report 2025, Emil menyebut sekitar 22 persen pekerjaan diperkirakan mengalami disrupsi hingga 2030, sementara sekitar 39 persen keterampilan pekerja diproyeksikan mengalami perubahan.

Menurut Emil, kondisi tersebut menunjukkan bahwa gelar akademik tetap memiliki peran penting. Namun, kemampuan untuk terus belajar dan menyesuaikan diri menjadi faktor yang semakin menentukan perjalanan seseorang di masa depan.

Ia juga mengingatkan bahwa peluang pekerjaan masa depan tidak hanya berada pada sektor teknologi. Bidang seperti big data, fintech, AI dan machine learning, pengembangan perangkat lunak, serta keamanan memang diproyeksikan mengalami pertumbuhan cepat.

Namun, sektor pertanian, pengemudi, konstruksi, dan penjualan juga tetap memiliki prospek perkembangan.

Karena itu, mahasiswa perlu menggabungkan literasi teknologi dengan kemampuan manusiawi, seperti berpikir kreatif, ketangguhan, fleksibilitas, kemampuan berkolaborasi, kepemimpinan, dan kemauan untuk terus belajar.

Emil memaknai istilah naik level bukan hanya sebagai peningkatan jenjang akademik atau bertambahnya semester, melainkan proses pertumbuhan manusia secara menyeluruh. Menurutnya, perkembangan mahasiswa harus dibangun melalui tiga unsur utama, yakni capacity, character, dan contribution.

Kapasitas membentuk seseorang melalui pengetahuan dan keterampilan. Karakter memberikan fondasi berupa integritas, disiplin, empati, dan tanggung jawab. Sementara kontribusi menjadi bentuk nyata bagaimana ilmu yang dimiliki dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Selain itu, Emil menekankan lima kekuatan yang perlu dimiliki mahasiswa masa depan, yaitu karakter, kompetensi, kreativitas, kolaborasi, dan kontribusi.

Dalam menghadapi perkembangan AI, Emil mengingatkan mahasiswa agar menggunakan teknologi tersebut secara bijak. AI, kata dia, harus menjadi copilot yang membantu proses belajar, bukan autopilot yang menggantikan kemampuan berpikir manusia.

Menurut Emil, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu mencari dan mengolah informasi, membangun ide awal, menganalisis data, melakukan simulasi, serta mempercepat proses pembelajaran.

Namun, kemampuan berpikir kritis, kejujuran akademik, verifikasi informasi, empati, tanggung jawab, dan pengambilan keputusan tetap menjadi peran manusia.

“Gunakan AI untuk memperluas pikiran, bukan menggantikan pikiran,” pesan Emil kepada mahasiswa baru Unusa.

Lebih lanjut, Emil mendorong mahasiswa membawa proses pembelajaran keluar dari ruang kelas melalui pengalaman nyata. Ia menyebut proses belajar idealnya berlangsung melalui tahapan learn, do, reflect, improve, dan share.

Menurut Emil, Jawa Timur dapat menjadi living laboratory bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus memberikan kontribusi. Berbagai persoalan seperti kesehatan ibu, anak, dan lansia, transformasi layanan kesehatan, ekonomi pesantren dan UMKM, lingkungan dan sampah, ketahanan pangan, literasi digital, serta pendidikan dan pemberdayaan komunitas dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berkarya.

Pada kesempatan tersebut, Emil juga mengajak mahasiswa baru Unusa memulai kontribusi sejak hari pertama kuliah.

Mahasiswa didorong untuk belajar melampaui ruang kelas, menggunakan teknologi secara cerdas dan beretika, membangun kolaborasi, serta menghasilkan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pesan tersebut dirangkum Emil melalui empat ajakan kepada mahasiswa, yakni menaikkan kapasitas diri, meneguhkan karakter, memperluas kolaborasi, dan mewujudkan kontribusi.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60