Pendidikan

Tim Ekspedisi Patriot ITS Siapkan Cold Storage hingga PLTSa di Batam

2
×

Tim Ekspedisi Patriot ITS Siapkan Cold Storage hingga PLTSa di Batam

Sebarkan artikel ini
ITS
Rancangan sistem Thermal Incinerator atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) untuk menanggulangi sampah di Tanjung Banun, Kecamatan Galang, Kota Batam.

BERITABANGSA.ID, BATAM – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merancang lima teknologi tepat guna untuk memperkuat perekonomian masyarakat pesisir Tanjung Banun, Kecamatan Galang, Kota Batam.

Berbasis ekonomi sirkular, inovasi tersebut menyasar persoalan pengelolaan sampah, rendahnya nilai jual hasil perikanan, limbah domestik, hingga keterbatasan pasokan energi.

Pengembangan teknologi ini mengusung tema Desain Teknologi dan Inovasi Tepat Guna (TTG) Kawasan Transmigrasi. Program tersebut menjadi bagian dari reorientasi transmigrasi yang menekankan pembentukan ekosistem ekonomi baru melalui pemanfaatan lahan dan rumah, peningkatan keterampilan sumber daya manusia (SDM), serta penguatan tata kelola dan inovasi teknologi.

Ketua Tim TEP 25 ITS 2026, Ir. Hendro Nurhadi, Ph.D., mengatakan mata pencaharian utama masyarakat Tanjung Banun adalah nelayan skala kecil. Kondisi itu membatasi kapasitas produksi dan daya tawar nelayan dalam memasarkan hasil tangkapan.

Menurut Hendro, sekitar 57,86 persen kapal nelayan di Kecamatan Galang berukuran di bawah 5 gross tonnage (GT).

Akibatnya, hasil tangkapan relatif terbatas dan sebagian besar hanya digunakan untuk konsumsi rumah tangga atau dijual kepada tetangga.

Persoalan tersebut diperberat oleh keterbatasan fasilitas pendingin. Tanpa mesin pendingin untuk menjaga kesegaran ikan, nelayan harus segera menjual hasil tangkapan dengan harga rendah.

Ketergantungan terhadap tengkulak atau pedagang perantara juga masih menjadi persoalan yang dihadapi masyarakat setempat.

Untuk menjawab tantangan itu, tim ITS merancang sistem teknologi tepat guna berupa cold storage dan palka pendingin yang dapat dipasang langsung pada kapal nelayan.

Tim juga mengembangkan cooling box hemat energi yang dapat dipadukan dengan panel surya untuk menekan biaya operasional.

Upaya meningkatkan nilai tambah hasil perikanan tidak berhenti pada penyimpanan ikan segar. TEP ITS turut merancang penggunaan food dehydrator, yakni alat pengering yang mengurangi kadar air pada ikan sehingga dapat memperpanjang masa simpannya.

Teknologi ini diharapkan mendukung pengolahan hasil tangkapan menjadi produk ikan kering yang memiliki nilai tambah.

Inovasi berikutnya menyasar kebutuhan energi untuk pertanian pekarangan dan budidaya akuaponik. Selama ini, pemadaman listrik di kawasan tersebut kerap mengganggu kegiatan budidaya.

Sebagai alternatif, tim menghadirkan rancangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dapat berfungsi sebagai sumber energi cadangan secara mandiri.

Kepala Pusat Teknologi Tepat Guna ITS Hendro Nurhadi juga menjelaskan bahwa tim mengembangkan thermal incinerator atau teknologi pembakaran sampah yang dirancang untuk menghasilkan listrik.

Inovasi ini menjadi salah satu prioritas setelah tim menemukan persoalan pengelolaan sampah yang belum optimal di Tanjung Banun.

Berdasarkan peninjauan lapangan, tim memperkirakan timbunan sampah di kawasan tersebut mencapai sekitar 7,1 ton per hari.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 468x60