Pendidikan

Unusa Tegaskan Zero Tolerance terhadap Bullying dan Kekerasan Seksual di Kampus

5
×

Unusa Tegaskan Zero Tolerance terhadap Bullying dan Kekerasan Seksual di Kampus

Sebarkan artikel ini
Unusa

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menegaskan komitmennya membangun lingkungan pendidikan yang aman, setara, dan bermartabat bagi seluruh sivitas akademika. Kampus menegaskan tidak boleh ada ruang bagi perundungan atau bullying, kekerasan seksual, intimidasi, diskriminasi, maupun penyalahgunaan relasi kuasa.

“Pencegahan kekerasan di Unusa adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Kita tidak boleh memberikan ruang sekecil apa pun bagi para pelaku kekerasan,” tegas Rektor Unusa Prof. Tri Yogi Yuwono saat membuka Seminar Kesetaraan Gender bertema “Membangun Kampus yang Aman, Setara, dan Bermartabat”, Senin, (5/10/2026).

Seminar yang digelar Kantor Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPKPT) Unusa bersama PLATO Foundation itu menghadirkan tiga perspektif untuk memperkuat kesadaran sivitas akademika mengenai pencegahan kekerasan di lingkungan kampus.

Tiga pembicara hadir dalam kegiatan tersebut. Arie Rukmantara, CFO Java UNICEF, menyampaikan materi Protection from Sexual Exploitation, Abuse and Harassment (PSEA). Wakil Dekan III FK Unusa, dr. Hafid Algristian, Sp.KJ., M.H., membawakan materi “Kampus Aman Dimulai dari Kita: Mengenali Kekerasan Berbasis Gender dan Perlindungan Hukumnya”.

Sementara Dita Amalia dari PLATO Foundation membahas peran generasi muda dalam mencegah kekerasan di lingkungan kampus.

Menurut Tri Yogi, perguruan tinggi tidak sekadar menjadi tempat untuk mengejar capaian akademik. Kampus merupakan ekosistem tempat ilmu pengetahuan disemai, karakter ditempa, adab ditanamkan, serta nilai-nilai kemanusiaan dijunjung tinggi.

Karena itu, menurut dia, inovasi dan prestasi akademik tidak akan berkembang secara optimal apabila lingkungan pendidikan masih menyimpan rasa takut, ketidakadilan, atau diskriminasi.

Seminar tersebut, kata Tri Yogi, bukan sekadar agenda administratif. Kegiatan itu menjadi refleksi sekaligus penegasan komitmen institusional Unusa untuk menjadikan kampus sebagai ruang yang aman, adil, dan bermartabat bagi setiap warga kampus.

Tri Yogi menegaskan, kesetaraan gender di kampus bukan persoalan mempertentangkan laki-laki dan perempuan.

Kesetaraan berarti memastikan setiap individu memperoleh hak, tanggung jawab, akses, dan kesempatan yang adil untuk belajar, berkembang, mengeksplorasi potensi keilmuan, serta meraih prestasi.

Pada saat yang sama, Unusa memberikan perhatian terhadap berbagai bentuk kekerasan yang dapat muncul di lingkungan pendidikan.

Bentuknya mulai dari kekerasan fisik dan verbal, intimidasi psikologis, hingga kekerasan seksual, termasuk yang berlangsung melalui ruang digital.

“Kita harus bergerak dari hulu ke hilir: membangun sistem regulasi yang tegas, memperkuat tata kelola pengaduan yang aman dan rahasia, serta menyediakan layanan pendampingan yang berpihak pada korban,” ujar Tri Yogi.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 468x60