Terkini

BBM Jember Terganggu, Antrean Meluber ke Lumajang: Pertamina Klaim Pasokan Diperkuat

1
×

BBM Jember Terganggu, Antrean Meluber ke Lumajang: Pertamina Klaim Pasokan Diperkuat

Sebarkan artikel ini
SPBU di Lumajang terlihat sepi, karena stok BBM kosong.

BERITABANGSA.ID, LUMAJANG – Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Lumajang dalam beberapa hari terakhir memicu keresahan masyarakat. Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya pembelian BBM oleh warga yang khawatir pasokan akan terganggu.

Namun, Pemerintah Kabupaten Lumajang memastikan persoalan tersebut bukan karena stok BBM di Lumajang habis.

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda Lumajang, Bonni Momenta, menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, kebutuhan BBM Lumajang disuplai dari sejumlah titik distribusi, terutama Surabaya dan Malang untuk wilayah Pronojiwo.

“Untuk Lumajang stoknya disuplai dari Surabaya dan Malang, khusus Pronojiwo. Sehingga tidak ada kekurangan stok dalam kondisi normal,” ujar Bonni kepada awak media, Selasa (8/9/2026).

Menurutnya, persoalan justru muncul akibat terganggunya distribusi BBM menuju Kabupaten Jember dan wilayah sekitarnya.

Kemacetan panjang di kawasan Ketapang, Banyuwangi, menjadi salah satu faktor utama yang menghambat perjalanan mobil tangki pengangkut BBM. Dampaknya, distribusi menuju Jember tidak berjalan optimal dan terjadi kekosongan pasokan di sejumlah SPBU.

Situasi tersebut kemudian menimbulkan efek domino. Warga yang biasanya membeli BBM di Jember beralih melakukan pembelian ke wilayah Lumajang. Lonjakan permintaan inilah yang kemudian membuat sejumlah SPBU di Lumajang ikut mengalami tekanan.

“Terjadi kemacetan di wilayah Ketapang Banyuwangi sehingga mengganggu distribusi BBM ke wilayah Jember dan sekitarnya, terjadi kekosongan. Hal ini menimbulkan limpahan pembelian BBM ke wilayah Lumajang,” jelas Bonni.

Kemacetan 12 Kilometer Jadi Biang Kerok

Gangguan distribusi tersebut berkaitan dengan kondisi lalu lintas di jalur Ketapang, Banyuwangi.

Kemacetan dilaporkan mencapai sekitar 12 kilometer, seiring adanya kegiatan revitalisasi kapasitas dermaga ASDP.

Panjang antrean kendaraan di jalur tersebut membuat waktu tempuh mobil tangki menuju wilayah Jember dan sekitarnya menjadi lebih lama.

Efeknya bukan sekadar kemacetan lalu lintas. Rantai pasok BBM ikutj tersendat. Ketika distribusi terlambat, stok di SPBU tidak dapat segera dipulihkan sesuai pola normal. Pada saat bersamaan, masyarakat yang mengetahui adanya antrean justru meningkatkan pembelian.

Kondisi tersebut kemudian menciptakan persoalan baru: permintaan naik ketika distribusi sedang terganggu.

Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus menyebut antrean panjang yang terjadi di sejumlah SPBU Jember pada Sabtu, 5 September 2026, terutama dipicu kendala distribusi akibat kemacetan panjang di Ketapang, Banyuwangi.

Namun ada faktor lain yang tidak kalah penting, yakni meningkatnya konsumsi karena kekhawatiran masyarakat.

Konsumsi produk gasoline mengalami peningkatan dibanding kondisi normal. Artinya, persoalan bukan hanya BBM yang terlambat datang, tetapi juga BBM yang lebih cepat terserap akibat pembelian berlebihan.

Jika kondisi ini tidak segera dikendalikan, antrean berpotensi menjadi lingkaran yang sulit diputus: informasi mengenai kelangkaan memicu pembelian besar-besaran, pembelian besar-besaran mempercepat habisnya stok di SPBU, lalu antrean semakin panjang dan kembali memicu kepanikan.

Pertamina Percepat Pengiriman ke Lumajang

Menghadapi lonjakan pembelian di Lumajang, Pertamina Depo Surabaya disebut melakukan percepatan pengiriman BBM ke wilayah Lumajang.

Pemerintah daerah bersama Pertamina juga melakukan koordinasi untuk memetakan kebutuhan masing-masing wilayah, mengatur prioritas pengiriman, serta memperkuat pasokan Pertalite melalui optimalisasi dan alih supply.

Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus memastikan penyaluran BBM, khususnya Pertalite, ke Jember dan Lumajang terus dilakukan dan kini diperkuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Bahkan, pada 5 September 2026, realisasi supply Pertalite disebut telah mencapai sekitar 110 persen.

Angka tersebut menunjukkan adanya upaya build up atau penguatan stok di SPBU untuk mengejar kebutuhan yang meningkat.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan Pertamina memahami keresahan masyarakat akibat antrean di sejumlah SPBU.

Pertamina, kata dia, terus melakukan berbagai langkah untuk menjaga ketersediaan BBM sekaligus mempercepat normalisasi kondisi di lapangan.

“Kami memahami adanya antrean yang terjadi di sejumlah SPBU Jember, Lumajang dan sekitarnya. Pertamina terus memperkuat penyaluran dan mengatur prioritas pengiriman, khususnya untuk SPBU di pusat kota,” ujar Ahad.

Menurutnya, koordinasi juga terus dilakukan bersama pemerintah daerah agar masyarakat tidak melakukan pembelian secara berlebihan.

“Di saat yang sama, kami juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar masyarakat tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan,” imbuhnya.

Untuk mempercepat normalisasi, Pertamina berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten untuk mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying.

Pertamina juga berkoordinasi dengan IT Tanjungwangi untuk memprioritaskan pengiriman ke SPBU di pusat kota.

Selain itu, dukungan alih supply dari IT Surabaya dan IT Malang juga diminta untuk memenuhi kebutuhan SPBU yang mengalami peningkatan permintaan.

Dengan strategi tersebut, armada pengangkut BBM diharapkan dapat lebih difokuskan untuk memperkuat distribusi ke wilayah Jember, Lumajang dan daerah sekitarnya.

Pertamina menyatakan ketersediaan BBM tetap menjadi prioritas dan penyaluran akan dipantau secara berkala.

Pernyataan pemerintah bahwa stok Lumajang aman tentu menjadi kabar yang menenangkan.

Namun, antrean panjang di SPBU tetap menjadi alarm bahwa persoalan distribusi BBM tidak bisa hanya dilihat dari angka stok secara keseluruhan.

Sebab, BBM yang secara total tersedia belum tentu langsung berada di SPBU yang sedang mengalami lonjakan permintaan.

Kasus ini memperlihatkan betapa rentannya distribusi BBM ketika jalur logistik utama terganggu dan pada saat yang sama terjadi lonjakan konsumsi.

Karena itu, masyarakat diminta tidak ikut memperparah situasi dengan membeli BBM melebihi kebutuhan.

Pertamina juga mengajak masyarakat berperan aktif dalam pengawasan pelayanan di SPBU.

Apabila menemukan dugaan penyalahgunaan atau pelayanan yang tidak sesuai ketentuan, masyarakat dapat melaporkannya melalui Pertamina Contact Center 135 untuk ditindaklanjuti sesuai prosedur.

Pesannya jelas: pasokan sedang diperkuat, distribusi sedang dikebut, tetapi kepanikan justru bisa menjadi faktor yang membuat antrean semakin panjang.

Pemerintah dan Pertamina kini dituntut bukan sekadar memastikan BBM tersedia di atas kertas, tetapi memastikan BBM benar-benar sampai ke SPBU dan dapat dibeli masyarakat secara normal.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60