Terkini

Pemkab Bilang BBM Aman, Faktanya SPBU Lumajang Malah Banyak Kosong: Warga Keliling Cari Pertalite-Pertamax

1
×

Pemkab Bilang BBM Aman, Faktanya SPBU Lumajang Malah Banyak Kosong: Warga Keliling Cari Pertalite-Pertamax

Sebarkan artikel ini
Salah satu SPBU di Kabupaten Lumajang, kondisinya sepi karena stok BBM kosong

BERITABANGSA.ID, LUMAJANG – Pernyataan Pemerintah Kabupaten Lumajang mengenai kondisi stok bahan bakar minyak (BBM) yang disebut aman kini mulai dipertanyakan. Bukan lagi sekadar soal antrean panjang, sejumlah SPBU di Kabupaten Lumajang justru dilaporkan sepi karena Pertalite dan Pertamax kosong.

Kondisi tersebut terjadi hingga Selasa (8/9/2026) pukul 18.30 WIB. Sejumlah SPBU memasang keterangan BBM habis atau masih dalam proses pengiriman.

Ironisnya, kondisi di lapangan tersebut berbeda dengan informasi yang sebelumnya beredar luas di masyarakat. Sejumlah WhatsApp Group (WAG) bahkan ramai membagikan flyer mengenai ketersediaan BBM di Kabupaten Lumajang yang disebut aman.

Publik pun dibuat bertanya-tanya: benarkah stok BBM aman, atau justru distribusinya yang sedang bermasalah?

Bukan Antre Panjang, SPBU Justru Sepi karena BBM Kosong. Situasi kali ini cukup berbeda. Jika sebelumnya masyarakat dibuat resah oleh antrean kendaraan yang mengular di sejumlah SPBU, kini persoalannya bergeser.

SPBU memang terlihat sepi, tetapi bukan karena kebutuhan BBM masyarakat berkurang.

Sejumlah warga memilih tidak mengantre karena BBM yang mereka cari memang tidak tersedia.

Kondisi Pertalite dan Pertamax yang kosong membuat masyarakat harus berkeliling mencari SPBU yang masih memiliki persediaan.

Hal itu dialami Nurhuda, warga Kelurahan Rogotrunan, Lumajang. Nurhuda mengaku sudah berkeliling ke sejumlah SPBU untuk mencari BBM, namun hasilnya mengecewakan.

“Saya sudah berkeliling di sejumlah SPBU, tetapi sudah kosong semua,” keluh Nurhuda, Selasa (8/9/2026).

Persoalan tersebut semakin membuatnya cemas karena posisi jarum indikator bahan bakar sepeda motornya kini sudah berada di bawah garis merah.

“Jarum meter BBM motor saya sudah di bawah garis merah. Kalau sampai besok pagi belum dapat BBM, saya kesulitan mengantarkan anak sekolah,” ujarnya lagi.

Keluhan tersebut menggambarkan persoalan yang sangat sederhana tetapi krusial: masyarakat membutuhkan BBM bukan sekadar sebagai angka dalam laporan stok, tetapi sebagai kebutuhan sehari-hari yang harus tersedia ketika dibutuhkan.

Pada pemberitaan sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Lumajang melalui Bagian Perekonomian dan SDA Setda Lumajang mempublikasikan data ketersediaan BBM berdasarkan pemantauan pada Sabtu (5/9/2026) lalu.

Data tersebut disampaikan sebagai bentuk transparansi kepada masyarakat sekaligus memastikan pasokan energi tetap terpantau.

Dalam data tersebut, stok Pertalite tercatat 150,2 kiloliter (KL) dengan estimasi ketahanan hanya 0,5 hari.

Sementara stok Pertamax mencapai 141,6 KL dengan estimasi ketahanan 3,9 hari. Untuk Pertamax Turbo tercatat 42,4 KL, dengan estimasi ketahanan mencapai 53,2 hari.

Sedangkan untuk BBM jenis solar, stok Biosolar tercatat 117,3 KL dengan estimasi ketahanan 0,6 hari, sementara Pertamina Dex sebanyak 28,7 KL dengan estimasi ketahanan 15,1 hari.

Angka tersebut sebenarnya sudah menunjukkan betapa dinamisnya kondisi stok BBM, terutama untuk Pertalite dan Biosolar.

Pemkab: Stok Dinamis, Bukan Batas Pasti Habis

Kepala Bagian Perekonomian dan SDA Setda Lumajang, Bonni Momenta, sebelumnya telah menjelaskan bahwa angka ketahanan stok tidak dapat dibaca sebagai batas pasti kapan BBM akan habis.

Menurutnya, stok dapat berubah mengikuti tingkat konsumsi dan kelancaran distribusi pasokan baru.

“Data ini merupakan kondisi stok pada saat pemantauan pagi hari. Ketahanan stok dapat berubah mengikuti tingkat konsumsi dan distribusi BBM. Angka ketahanan ini jangan dibaca sebagai batas pasti habisnya stok. Kondisinya dinamis, sehingga pembaruan data tetap penting,” ujar Bonni dalam portalberita.lumajangkab.go.id.

Pernyataan tersebut menjadi penting untuk dicermati karena data yang disampaikan pada 5 September merupakan gambaran pada saat pemantauan dilakukan.

Sementara realitas di lapangan pada 8 September 2026 menunjukkan sejumlah SPBU mengalami kekosongan Pertalite dan Pertamax.

Artinya, data stok dan kondisi ketersediaan di SPBU bisa saja berubah sangat cepat dalam hitungan hari, bahkan jam.

Warga Pertanyakan Akurasi Informasi Pemerintah. Persoalan yang kini muncul bukan semata-mata soal habisnya BBM.

Yang menjadi sorotan masyarakat adalah kesenjangan antara informasi resmi dan kondisi yang mereka temui ketika mendatangi SPBU.

Flyer imbauan untuk tidak panic buying. (Sumber: Pemkab Lumajang)

Sejumlah flyer yang menyebut stok BBM Lumajang aman beredar di berbagai WAG.

Namun, ketika masyarakat mendatangi SPBU, yang ditemukan justru papan atau informasi bahwa Pertalite dan Pertamax habis atau masih dalam pengiriman.

Kondisi itu berpotensi menimbulkan kebingungan. Apalagi bagi masyarakat yang membutuhkan BBM untuk bekerja, mengantar anak sekolah, berdagang, maupun menjalankan aktivitas ekonomi lainnya.

“Kalau memang aman, masyarakat ingin tahu aman dalam arti apa. Karena yang kami lihat di SPBU justru kosong,” kata seorang warga yang ditemui di tengah kondisi tersebut.

Pertanyaan publik sebenarnya sederhana: stok aman di mana dan untuk siapa, jika konsumen di tingkat SPBU justru kesulitan mendapatkannya?

Keluhan serupa juga disampaikan Almuch, warga Kecamatan Sumbersuko. Menurutnya, kondisi ketersediaan BBM yang terjadi saat ini menunjukkan persoalan yang harus segera mendapatkan perhatian.

“Harusnya kondisi saat ini jangan sampai semrawut seperti ini. Lebih baik menggunakan kendaraan listrik saja,” ujar Almuch kepada wartawan.

Pernyataan tersebut memang terdengar satir. Namun, di balik itu terdapat keresahan masyarakat mengenai kepastian pasokan energi.

Sebab, bagi masyarakat pengguna kendaraan berbahan bakar minyak, keberadaan Pertalite maupun Pertamax bukan sekadar kebutuhan tambahan. BBM menjadi penunjang utama mobilitas sehari-hari.

Situasi ini semestinya menjadi momentum bagi Pemkab Lumajang dan pihak Pertamina untuk melakukan pengecekan menyeluruh.

Jika persoalannya adalah distribusi, masyarakat perlu diberi penjelasan. Jika terjadi lonjakan konsumsi, publik juga perlu diberi informasi. Jika pasokan sedang dalam perjalanan, masyarakat perlu mengetahui kapan distribusi tersebut diperkirakan tiba.

Dan jika memang terdapat kendala teknis maupun faktor lain, hal tersebut juga perlu disampaikan secara terbuka.

Sebab, informasi publik tidak cukup hanya menyebut “stok aman”. Yang lebih penting adalah memastikan BBM benar-benar tersedia di SPBU tempat masyarakat membutuhkannya.

Jangan sampai masyarakat dibuat tenang oleh informasi stok yang tercatat di atas kertas, sementara di lapangan mereka harus berkeliling dari satu SPBU ke SPBU lainnya dengan jarum indikator kendaraan sudah berada di bawah garis merah.

Kini publik Lumajang menunggu jawaban: sebenarnya BBM aman, atau masyarakat hanya menerima informasi yang sudah tidak lagi sesuai dengan kondisi terbaru di lapangan?

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60