BERITABANGSA.ID, JOMBANG – Ancaman musim kemarau panjang yang diperkirakan dipicu fenomena El Nino menjadi perhatian Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Wiwin Sumrambah. Ia menilai ketahanan pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga harus dibangun dari tingkat keluarga melalui pemanfaatan lahan pekarangan.
Pesan itu disampaikan Wiwin saat menggelar Sosialisasi Wawasan Kebangsaan (Sowan) bertema Penguatan Ketahanan Pangan dan Lingkungan di Aula Hotel Fatma, Kabupaten Jombang, Minggu (19/7/2026) siang.
Di hadapan ratusan peserta yang didominasi kalangan muda, politikus PDI Perjuangan tersebut mengajak masyarakat mulai membiasakan menanam sayuran di sekitar rumah sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi krisis pangan akibat kemarau berkepanjangan.
“Ketahanan pangan dan lingkungan kami jadikan tema utama karena pangan merupakan kebutuhan dasar setiap orang. Apalagi kita diperkirakan akan menghadapi musim El Nino yang dampaknya bisa cukup berat,” kata Wiwin.
Menurut dia, perubahan iklim berpotensi memengaruhi produksi pertanian sehingga masyarakat perlu memiliki kemampuan memenuhi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri. Salah satu cara yang dinilai paling mudah ialah memanfaatkan lahan kosong, halaman rumah, maupun media tanam sederhana untuk membudidayakan sayuran konsumsi.
Wiwin mengatakan langkah tersebut bukan sekadar gerakan penghijauan, melainkan bagian dari upaya memperkuat ketahanan keluarga menghadapi gejolak harga bahan pangan yang belakangan mulai meningkat.
“Kalau setiap keluarga bisa menanam cabai, tomat, bayam, atau sayuran lainnya di rumah, setidaknya ada kebutuhan dapur yang bisa dipenuhi sendiri ketika harga di pasar naik,” ujarnya.
Ia menilai gerakan menanam di pekarangan juga memberikan manfaat ekologis. Selain memperbanyak ruang hijau, lingkungan permukiman menjadi lebih bersih, sejuk, dan nyaman. Karena itu, menurut dia, upaya menjaga kebersihan lingkungan harus berjalan beriringan dengan penguatan ketahanan pangan.
“Gerakan ini harus dimulai dari lingkungan keluarga. Menanam dan menjaga kebersihan merupakan dua hal yang saling berkaitan,” katanya.
Wiwin menambahkan, tantangan sektor pangan dalam beberapa waktu ke depan tidak hanya berasal dari perubahan iklim, tetapi juga produktivitas pertanian yang belum sepenuhnya pulih. Kondisi tersebut, menurut dia, perlu diantisipasi melalui keterlibatan masyarakat agar tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari pasar.
Ia mengingatkan sejumlah komoditas dapur telah menunjukkan tren kenaikan harga. Jika kemarau berlangsung lebih panjang, tekanan terhadap produksi pertanian dikhawatirkan semakin besar.
“Beberapa kebutuhan dapur mulai mengalami kenaikan harga, hasil panen petani juga belum maksimal, sementara kita akan memasuki musim kemarau yang diprediksi berlangsung cukup panjang. Karena itu mari bergotong royong mengantisipasi dampaknya sejak dini,” ujar Wiwin.
Berdasarkan pantauan di lokasi, kegiatan sosialisasi tersebut dihadiri ratusan warga dari berbagai kecamatan di Kabupaten Jombang. Diskusi berlangsung interaktif dengan sejumlah peserta menyampaikan pertanyaan mengenai strategi menjaga ketahanan pangan keluarga serta pengelolaan lingkungan di tingkat desa sebelum acara ditutup dengan doa bersama.


















