BERITABANGSA.ID, LUMAJANG – Era digital telah mengubah wajah pendidikan secara drastis. Guru tidak lagi cukup hanya menguasai metode mengajar konvensional, tetapi dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk menciptakan pembelajaran yang lebih menarik, kritis, dan relevan dengan kebutuhan generasi saat ini.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan peningkatan kompetensi guru yang menyoroti pentingnya transformasi pendidikan di tengah derasnya arus digitalisasi. Para pendidik di Kabupaten Lumajang kini ditantang untuk tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga inovator yang mampu menjawab kebutuhan peserta didik abad ke-21.
Ketua DPD Generasi Digital Indonesia (Gradasi) Provinsi Jawa Timur, Kusbeni Abdullah, menegaskan bahwa penguasaan literasi digital menjadi kebutuhan mendesak bagi seluruh guru. Menurutnya, perkembangan teknologi tidak dapat dihindari sehingga dunia pendidikan harus bergerak lebih cepat agar tidak tertinggal.
“Guru harus mampu menguasai literasi digital, memanfaatkan Artificial Intelligence atau AI untuk merancang bahan ajar yang interaktif, serta aktif mengikuti webinar maupun diklat. Ini penting untuk menciptakan pembelajaran yang kritis dan relevan dengan gaya belajar siswa modern,” tegas Kusbeni.
Ia menilai masih banyak guru yang belum memaksimalkan teknologi digital sebagai bagian dari proses pembelajaran. Padahal, berbagai platform dan aplikasi kini tersedia secara luas untuk membantu meningkatkan kualitas pendidikan.
“Kita tidak bisa lagi mengandalkan metode hafalan semata. Anak-anak sekarang hidup dalam dunia digital yang serba cepat. Guru harus mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif, mendalam, dan mampu menumbuhkan daya pikir kritis siswa,” katanya.
Menurut Kusbeni, terdapat sejumlah langkah konkret yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan kompetensi di era digital.
Pertama, guru harus aktif mengikuti pelatihan dan webinar pendidikan melalui berbagai platform resmi, termasuk Platform Merdeka Mengajar maupun kegiatan peningkatan kapasitas lainnya yang bersertifikat.
Kedua, guru perlu mulai mengintegrasikan teknologi AI dan media interaktif ke dalam pembelajaran. Berbagai aplikasi seperti Canva, ChatGPT, hingga simulasi digital dapat dimanfaatkan untuk membuat materi ajar yang lebih menarik dan efektif.
“AI bukan ancaman bagi guru. Justru AI adalah alat bantu yang bisa mempercepat proses perencanaan pembelajaran dan memperkaya metode mengajar jika digunakan secara bijak,” ujarnya.
Ketiga, membangun komunitas belajar melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) maupun forum diskusi pendidikan menjadi langkah strategis untuk saling bertukar pengalaman dan mencari solusi atas berbagai persoalan di kelas.
Keempat, guru didorong melakukan evaluasi dan refleksi mandiri secara berkala melalui analisis SWOT terhadap proses kegiatan belajar mengajar yang telah dilakukan.
“Refleksi menjadi kunci agar guru terus berinovasi dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman yang terus berubah,” tambahnya.
Selain itu, Kusbeni juga mengingatkan pentingnya peran guru sebagai teladan etika digital bagi peserta didik. Di tengah maraknya informasi yang beredar melalui media sosial, siswa harus dibimbing untuk mampu memilah informasi yang benar dan bertanggung jawab dalam bermedia digital.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Lumajang, Agik Gamar Wijaya, menyampaikan pesan Kepala Dindikbud Kabupaten Lumajang, Patria Dwi Hastiadi, saat menghadiri acara perpisahan anak kelas 9 SMPN 01 Lumajang (Spensalu), agar seluruh guru terus meningkatkan kapasitas dan kompetensinya.
Menurut Agik, peningkatan kemampuan guru bukan sekadar tuntutan administratif, melainkan kebutuhan nyata dalam menghadapi perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.
“Pesan Kepala Dindikbud sangat jelas. Semua guru di Kabupaten Lumajang diminta terus meng-upgrade kompetensinya. Pendidikan sekarang sudah memasuki era digital. Anak-anak yang kita didik adalah generasi yang lahir dan tumbuh di tengah digitalisasi,” katanya dalam sambutannya, Rabu (17/6/2026).
Ia menegaskan bahwa guru yang adaptif terhadap teknologi akan mampu menciptakan inovasi-inovasi baru yang membawa lompatan besar bagi kualitas pendidikan di Kabupaten Lumajang.
“Harapannya guru mampu membuat inovasi yang bisa membawa lompatan-lompatan positif bagi dunia pendidikan. Jangan sampai guru menjadi penonton di tengah kemajuan teknologi yang terus berkembang,” ujarnya.
Agik juga menekankan pentingnya kolaborasi seluruh elemen pendidikan mulai dari kepala sekolah, guru, komite sekolah, paguyuban, hingga wali murid.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak bisa hanya dibebankan kepada guru semata, tetapi membutuhkan sinergi semua pihak untuk menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan produktif.
“Sinergitas antara kepala sekolah, guru, komite, paguyuban, serta wali murid harus terus terjalin dengan baik. Dengan kebersamaan, kita bisa membawa nama baik sekolah sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan di Lumajang,” pungkasnya.
Di tengah derasnyia revolusi digital dan perkembangan AI yang semakin masif, pesan tersebut menjadi alarm bagi dunia pendidikan. Guru yang mampu beradaptasi akan menjadi motor penggerak perubahan, sementara mereka yang enggan bertransformasi berisiko tertinggal dalam arus besar modernisasi pendidikan yang kini tak lagi bisa dibendung.


















