BERITABANGSA.ID, KOTA BATU– Di sebuah sudut Kota Batu, tangan Muchlis Arif menari di atas tanah liat basah. Di bawah sentuhannya, segumpal material bumi itu perlahan berubah wujud. Merekam jejak dialog sunyi antara jiwa dan medium yang telah berlangsung selama lebih dari tiga dekade. Baginya, seni keramik bukan sekadar proses teknis. Ini adalah sebuah perjalanan cinta yang total. Sebuah pengabdian yang kini mengantarnya pada titel maestro.
Muchlis Arif memandang tanah liat bukan sekadar bahan. Material ini ibarat pasangan hidup yang setia, medium yang telah menemaninya berpuluh tahun, dan cermin dari perjalanan jiwa.Hubungan itu bukan hanya tentang membentuk, membakar, atau mencipta. Lebih dari itu, tanah liat telah menjadi ruang di mana ia jatuh cinta dan larut dalam totalitas, dalam pengabdian yang tak kenal lelah.
“Saya dan tanah liat memiliki hubungan panjang,” kata Arif.
Karya-karya keramiknya telah lama menjadi koleksi sejumlah museum seni di Indonesia. Karya yang diciptanya adalah jejak-jejak bisu dari proses kreatif yang berlangsung puluhan tahun. Berproses sejak era 90-an, Muchlis Arif telah melewati tahapan yang lengkap sebagai seorang seniman, mulai dari perumusan ide, proses penciptaan, publikasi, apresiasi, hingga transaksi.
Ia memahami betul bahwa tanah liat bukan media yang populis. begitu pengakuannya. Namun, justru di titik itulah konsistensinya diuji dan akhirnya bersinar. “Memang gelaran pameran seni keramik bisa dihitung jari, berbeda dengan pameran seni rupa lainnya,” lanjut dia.
Kesadaran akan terbatasnya ruang bagi keramik mendorongnya untuk melebarkan sayap. Dari Studio Mata Hati yang hanya berfokus pada keramik, ia kemudian membuka “Satu Hati Art Space”.
Ruang ini menjadi rumah bagi seni lintas dimensi: ada lukisan, logam, kertas, dan tentu saja keramik. Ini adalah langkah strategis untuk membangun ekosistem seni yang lebih inklusif dan saling menghidupi.
Ada momen emosional yang menyelimuti persiapan rangkaian acara pembukaan Satu Hati Art Space. Arif mengaku sempat meneteskan air mata ketika melihat kembali alat pengangkut tanah liat—yang disebut glindingan—yang telah digunakannya sejak awal merintis studio keramik. “Tadi pagi saya sempat menangis melihat glindingan itu,” kenang Arif dengan mata berkaca-kaca.
“Saya teringat dulu bersama kembaran saya, Pak Roo (pemilik Kaliwatu), berdua menurunkan tanah liat satu truk penuh dan mengangkutnya masuk ke dalam gang sempit, karena studio awalnya berada di gang sempit. Kami tidak pernah berpikir ini bisnis, kami hanya ingin menyenangkan dan bermanfaat bagi orang lain,” imbuhnya.


















