Terkini

Ironis, Warga Desa Bandungrejo Penghasil Gas Keluhkan Mahalnya Sambungan Gas

8
×

Ironis, Warga Desa Bandungrejo Penghasil Gas Keluhkan Mahalnya Sambungan Gas

Sebarkan artikel ini
Desa Bandungrejo
Intalasi gas milik salah satu warga Desa Bandungrejo dan rumah warga yang masih beratapkan didinding kayu. Foto: Suyati/Beritabangsa.id

BERITABANGSA.ID, BOJONEGORO – Ironi terjadi di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, penghasil gas. Warga di sini malah tak mampu membayar sambungan gas ke rumah akibat harga mencekik.

Data media menyebutkan, sejumlah warga mengaku penyambungan instalasi gas rumah tangga terlalu mahal sementara ekonomi warga terbatas.

Salah satu warga Desa Bandungrejo Suparti, mengakui selain itu mereka harus dipusingkan dengan tagihan setiap bulan. Menurutnya, tagihan gas itu menjadi beban berat warga.

“Untuk makan sehari-hari saja sudah susah, apalagi harus bayar gas mahal,” keluhnya.

Dia menjelaskan, tarif gas yang dikenakan tidak bersubsidi dan disesuaikan dengan daya listrik terpasang di rumah. Artinya, warga dengan listrik non-subsidi otomatis dikenakan tarif gas lebih tinggi.

“Bayarnya disesuaikan dengan listrik. Kalau listrik tidak subsidi, gasnya juga ikut mahal,” ujarnya, kecewa.

Kondisi tersebut membuat Suparti dan sejumlah warga lainnya terpaksa mengambil langkah memutus sambungan gas rumah tangga dan kembali menggunakan bahan bakar alternatif yang lebih terjangkau, meski tidak sepraktis sebelumnya.

“Dari padahal mahal pakai gas itu, saya lebih baik memilih menggunakan gas melon, paling dalam satu bulan cuma habis tiga tabung karena dipakai jualan kopi. Itu tidak sampai 150 ribu,* tuturnya.

Fenomena ini memunculkan tanda tanya besar terhadap efektivitas program distribusi gas rumah tangga, khususnya di wilayah penghasil seperti Bandungrejo. Harapan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal justru berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan.

Tidak hanya itu potret ketimpangan semakin terlihat dari kondisi fisik permukiman warga Bandungrejo, sebagian rumah masih berdinding kayu dan jauh dari kata layak, mempertegas bahwa manfaat eksploitasi sumber daya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat sekitar.

Hingga kini, warga berharap ada perhatian serius dari pihak terkait. Kebijakan yang lebih berpihak dinilai mendesak, agar kekayaan alam di wilayah mereka tidak hanya dinikmati segelintir pihak, tetapi juga benar-benar dirasakan oleh masyarakat setempat.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60