BERITABANGSA.ID, KOTA BATU – Di tengah dominasi korporasi besar dalam perekonomian nasional, koperasi tetap menunjukkan relevansinya sebagai penyangga ekonomi rakyat. Badan usaha berbasis kekeluargaan itu bukan sekadar wadah usaha bersama, tetapi juga instrumen strategis untuk menumbuhkan kemandirian ekonomi dari desa.
Dari unit-unit kecil di tingkat masyarakat, koperasi menjadi motor penggerak pemerataan kesejahteraan.
Namun perjalanan koperasi di Indonesia tidak selalu berjalan mulus. Banyak koperasi tumbang akibat lemahnya tata kelola, intervensi politik, serta rendahnya profesionalitas pengelolaan.
Karena itu, kebangkitan koperasi harus dibarengi dengan transformasi kelembagaan dan penguatan manajemen agar mampu menjawab tantangan ekonomi modern.
Hal tersebut disampaikan anggota Komisi XI DPR RI Andreas Eddy Susetyo saat mengunjungi Koperasi Margo Makmur Mandiri di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
Meski berada di kawasan pegunungan yang relatif terpencil, Dusun Brau menyimpan potensi ekonomi yang besar sebagai sentra peternakan sapi perah.
Setiap hari, wilayah ini mampu memproduksi sekitar 10 ribu liter susu sapi segar yang berasal dari sekitar 600 peternak dengan total populasi lebih dari 2.000 ekor sapi. Seluruh produksi tersebut ditampung dan didistribusikan melalui koperasi setempat.
“Kunjungan saya ke Brau untuk melihat sejauh mana ekonomi kerakyatan dalam bentuk koperasi bisa eksis. Artinya koperasi susu, peternakan sapi perah di sini bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat. Model usaha produksi seperti ini sebetulnya bisa ditularkan ke daerah lain,” ujar Andreas, legislator daerah pemilihan Malang Raya dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
Menurut Andreas, pemerintah perlu hadir sebagai fasilitator dalam penguatan koperasi. Dukungan regulasi yang berpihak, pendampingan manajerial, digitalisasi sistem usaha, hingga skema penjaminan risiko menjadi faktor penting agar koperasi mampu bersaing di era ekonomi modern. Tata kelola yang transparan dan akuntabel juga dinilai menjadi fondasi utama bagi keberlanjutan usaha koperasi.
Ia juga menekankan pentingnya transformasi koperasi menuju sektor usaha produktif. Selama ini, banyak koperasi terjebak pada kegiatan simpan pinjam yang terbatas.
Padahal koperasi memiliki peluang besar untuk berkembang di sektor riil seperti pertanian, peternakan, perikanan hingga properti.
Dalam konteks ekonomi kerakyatan, koperasi juga memainkan peran strategis dalam memperkuat posisi tawar masyarakat. Tanpa koperasi, para petani atau peternak sering kali berada pada posisi lemah karena harga produk ditentukan oleh tengkulak.
Dengan adanya koperasi, para produsen kecil dapat menghimpun sumber daya dan menjual hasil produksi secara kolektif. Koperasi bertindak sebagai offtaker yang membeli produk anggota dengan harga yang lebih adil sehingga nilai tambah tidak sepenuhnya dinikmati oleh perantara.
Di sisi lain, koperasi juga terbukti lebih tangguh menghadapi tekanan ekonomi. Model usaha berbasis gotong royong dan pelayanan anggota membuat koperasi relatif lebih resilien dibanding perusahaan konvensional yang kerap melakukan pemutusan hubungan kerja ketika krisis melanda.
“Yang perlu dioptimalkan adalah pengelolaannya agar lebih profesional. Sekalipun koperasi, jika dikelola seperti perusahaan yang profesional, maka bisa menjawab tantangan ketimpangan ekonomi,” imbuh Andreas yang juga menjabat Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara DPR RI.
Ia menegaskan koperasi merupakan wadah yang memungkinkan masyarakat akar rumput menjadi pelaku utama pembangunan ekonomi. Dengan semangat gotong royong yang diwariskan para pendiri bangsa, ditopang inovasi dan kebijakan yang tepat, koperasi diyakini mampu menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
Ketua Koperasi Margo Makmur Mandiri Desa Gunungsari, Muhammad Munir, menjelaskan sekitar 90 persen warga Dusun Brau menggantungkan hidup dari usaha peternakan sapi perah. Melimpahnya produksi susu menjadi sumber utama penggerak ekonomi masyarakat setempat.
Populasi sapi perah bahkan mencapai dua kali lipat dibandingkan jumlah penduduk di dusun tersebut. Kondisi itu membuat Brau dikenal sebagai kawasan peternakan susu dengan produksi yang konsisten.
“Dengan potensi ternak yang besar ini, Dusun Brau juga dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi susu. Pemerintah Kota Batu melalui dinas pariwisata turut memberikan perhatian untuk memacu wisata berbasis potensi desa,” kata Munir.
Susu yang dihasilkan dari peternakan Brau dikenal memiliki kualitas tinggi. Lingkungan pegunungan yang sejuk serta perawatan ternak yang baik menghasilkan susu dengan rasa kental dan alami tanpa campuran tambahan. Produk tersebut bahkan masuk kategori kualitas grade A.
Sejak 2020, produksi susu dari Dusun Brau juga mulai dilirik produsen keju cheddar dan mozzarella yang berbasis di Bali. Sebagian susu segar juga diolah menjadi berbagai produk turunan seperti permen susu, stik susu, pia susu, keripik susu hingga olahan labu susu.
“Produk susu dari Dusun Brau semakin diminati. Tidak hanya oleh masyarakat lokal, tetapi juga pasar yang lebih luas,” ujar Munir.


















