BERITABANGSA.ID, ACEH – Universitas Airlangga (UNAIR) menyalurkan bantuan modal usaha tunai Rp3 juta kepada tiap pelaku usaha mikro terdampak di Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Minggu (22/2/2026).
Stimulus ini diharapkan menjadi pemantik kebangkitan ekonomi masyarakat yang sempat terpuruk akibat bencana.
Bantuan tak hanya berhenti pada penyerahan dana. UNAIR juga membekali para pelaku UMKM dengan penguatan perspektif dan strategi usaha agar modal yang diterima tidak habis untuk kebutuhan konsumtif, melainkan menjadi fondasi kemandirian ekonomi jangka panjang.
Pakar Sosiologi Unair, Bagong Suyanto, menegaskan dalam fase pemulihan, pelaku usaha perlu mengedepankan rasionalitas.
Ia mengingatkan agar para pelaku UMKM tidak tergoda untuk langsung membesarkan skala usaha secara vertikal. Menurutnya, pendekatan yang lebih relevan adalah berkembang ke samping.
“Dalam kondisi pasar yang belum stabil, lebih aman memiliki beberapa usaha kecil dibandingkan satu usaha besar dengan risiko tinggi. Diversifikasi adalah bentuk adaptasi terhadap keterbatasan akses pasar,” ujarnya.
Strategi itu, lanjutnya, memungkinkan pelaku usaha memiliki sumber pendapatan alternatif. Jika satu lini usaha melemah, lini lain masih dapat menopang keberlangsungan ekonomi keluarga.
Bahkan, apabila belum mampu menciptakan produk baru, pelaku usaha dapat memperluas jangkauan dengan membuka cabang di lokasi berbeda sesuai potensi pasar setempat.
Selain soal diversifikasi, Prof Bagong juga menyoroti pentingnya inovasi dan identitas produk.
Ia menjelaskan bahwa perilaku konsumen saat ini tidak lagi semata-mata bertumpu pada fungsi dasar barang.
Nilai emosional dan pengalaman yang ditawarkan sebuah produk justru kerap menjadi faktor penentu keputusan pembelian.
Menurutnya, nama usaha yang unik dan memantik rasa penasaran dapat menjadi pintu masuk membangun pengalaman tersebut. Konsumen modern cenderung mengingat kesan, bukan sekadar barang.
“Orang membeli bukan hanya karena butuh, tetapi karena ingin merasakan pengalaman. Berikan cerita pada produk. Bangun identitas yang kuat,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemahaman terhadap segmentasi pasar mutlak dilakukan. Pelaku usaha harus mengenali siapa konsumennya, bagaimana karakter mereka, dan pengalaman seperti apa yang dicari.
Dalam konteks ini, produk tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari narasi yang ditawarkan kepada publik.
Pada aspek pemasaran, Bagong menekankan urgensi pemanfaatan media sosial sebagai instrumen promosi yang murah dan efektif.
Platform digital membuka peluang pasar lebih luas tanpa biaya besar. Namun, ia kembali mengingatkan agar modal yang diterima benar-benar dialokasikan untuk keberlanjutan usaha.
“Jangan habiskan untuk konsumsi. Gunakan untuk memperkuat usaha. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali,” tegasnya.
Sementara itu, Koordinator LPMB UNAIR, Ikhsan Rosyid Mujahidul Anwari, berharap transfer pengetahuan dari para akademisi dapat diterapkan secara konkret oleh para penerima manfaat.
Ia juga menekankan pentingnya peran pendamping dalam memastikan usaha berjalan berkelanjutan.
Ia menyebut sinergi dengan YAPPERA diharapkan mampu menjembatani teori dan praktik di lapangan. Pendampingan menjadi faktor kunci agar pelaku usaha tidak berjalan sendiri dalam menghadapi tantangan pascapemulihan.
Program ini merupakan bagian dari komitmen Unair dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan, termasuk pengentasan kemiskinan, peningkatan kesejahteraan, pertumbuhan ekonomi inklusif, serta penguatan kemitraan.
Pendekatan berbasis pemberdayaan dinilai menjadi strategi yang lebih transformatif dibanding sekadar bantuan karitatif, karena menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam proses kebangkitan ekonomi mereka sendiri.


















