BERITABANGSA.ID, JOMBANG – Pemerhati sejarah di Jombang, Arif Yulianto atau Cak Arif kembali membuka lembaran sejarah terkait kelahiran Presiden Pertama RI, Ir Soekarno atau Bung Karno di Ploso Karesidenan Surabaya, 6 Juni 1902, yang kini Kabupaten Jombang.
Kali ini, Cak Arif menunjukkan sebuah foto lama, di 1925. Di dalam foto itu terdapat sosok yang bernama Mas Kiai Suro Sentono atau Kek Suro.
Cak Arif mengatakan, nama itu sekian lama menjadi misteri setelah dia mendapatkan cerita dari keluarga Situs Persada Soekarno Kediri bahwa yang menjadi saksi kelahiran Bung Karno adalah Kek Suro.
Seiring berjalannya waktu, misteri siapa sosok itu akhirnya terbuka, dan ternyata dia adalah orang Kabuh, Jombang.
“Foto yang ada tulisan ‘Koenjoengan R.Djamiloen ke Broemboeng 1925 ini saya temukan di Kabuh Jombang. Raden Djamiloen adalah saudara Bupati Jombang Pertama, RAA Soeroadiningrat V, ” kata Cak Arif, Selasa (17/2/2026).
“Oleh pemilik foto yang bernama Pak Sulisyono Imam Jayaharja, ada beberapa sosok yang disebutkan. Ada Raden Djamiloen, Mbah Suro (Kek Suro), dan buyut Pak Sulisyono sendiri yang bernama Buyut Ilyas. Nah Buyut Ilyas ini Lurah Brumbung (Broemboeng) saat itu,” ungkap Cak Arif.
Maka ujar Cak Arif, tak heran jika Bung Karno lahir di Ploso yang saat itu masuk wilayah Karesidenan Surabaya, dan tidak jauh daerah Kabuh.
“Jadi Bung Karno lahir di Ploso 6 Juni 1902, saksi kelahirannya adalah Kek Suro orang Kabuh. Ploso dan Kabuh wilayah yang berdekatan, ada di utara Brantas di Kabupaten Jombang,” terang Cak Arif.
Selang beberapa waktu, lanjut Cak Arif, dirinya bersama penelusur sejarah, Binhad Nurrohmat, membawa foto tersebut untuk dicarikan pembanding ke keluarga Raden Djamiloen di Sedayu, Gresik.
Namun, keluarga Raden Djamiloen di Sedayu ternyata sama sekali tidak memiliki foto Raden Djamiloen, dan hanya memiliki lukisan masa tuanya.
“Tapi keluarga Raden Djamiloen di Sedayu meyakini bahwa Raden Djamiloen yang disebutkan Pak Sulisyono itu benar adanya,” ucap Cak Arif.
“Karena mereka membandingkan wajah Raden Djamiloen dengan wajah ayahnya, Kanjeng Sepuh Sedayu, ada kesamaan,” tambah Cak Arif.
Sehingga kata Cak Arif, apa yang diceritakan oleh pemilik foto, Sulisyono Imam Jayaharja adalah memang benar adanya.
Cak Arif mengaku dirinya bersama sejumlah penelusur sejarah sudah berkunjung ke Yogyakarta, tepatnya ke makam Kuncen, tempat Kek Suro dimakamkan. Di mana lokasinya satu kompleks dengan makam H.O.S Cokroaminoto.
Kek Suro terang Cak Arif, dimakamkan di Yogyakarta karena meninggal dunia di Yogyakarta setelah menjadi penasehat spiritual Bung Karno pada tahun 1946 hingga 1949 semasa Sang Proklamator berdinas di Istana Yogyakarta.
Tak hanya itu, bagi Cak Arif, kejelasan tentang Kek Suro di foto yang dia temukan itu seperti ‘klik’ dengan narasi sejarah yang ada di buku biografi Bung Karno yang ditulis oleh penulis Amerika bernama Cindy Adams pada tahun 1966.
Di mana di buku itu dituliskan dengan ejaan lama, ‘Bapak tidak mampu memanggil dukun untuk menolong anak jang akan lahir. Keadaan kami terlalu ketiadaan. Satu-satunja orang jang menghadapi ibu ialah seorang kawan dari keluarga kami, seorang kakek jang sudah terlalu amat tua. Dialah, dan tak ada orang lain selain dari orang tua itu, jang menjambutku mengindjak dunia ini’.
“Siapakah kakek tua yang dimaksud di buku itu, tak lain adalah Mas Kiai Suro Sentono atau Kek Suro, kerabat keluarga Bung Karno. Kek Suro lahir di Kabuh yang saat ini masuk Kabupaten Jombang,” pungkas Cak Arif.
Cak Arif berharap, narasi sejarah ini dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat luas bahwa Bung Karno memang lahir pada tanggal 6 Juni 1902 di Ploso, Karesidenan Surabaya.
“Ploso kini masuk wilayah Kabupaten Jombang,” pungkas Cak Arif.(red)


















