Terkini

Langka di Pasaran, Jatah MBG di Kedungjajang Tanpa Susu

25
×

Langka di Pasaran, Jatah MBG di Kedungjajang Tanpa Susu

Sebarkan artikel ini
MBG
MBG anak sekolah wilayah Kecamatan Kedungjajang.

BERITABANGSA.ID, LUMAJANG – Sejumlah siswa di wilayah Kecamatan Kedungjajang dilaporkan tidak menerima jatah susu dalam ompreng Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di sekolah, diduga karena kelangkaan susu di pasaran.

Kondisi tersebut terlihat sejak beberapa hari terakhir. Tidak hanya di wilayah Kedungjajang, kelangkaan susu sekolah juga terjadi di sebagian wilayah perkotaan di Kabupaten Lumajang.

Salah satu pemilik Yayasan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang enggan dinamakan mengungkapkan, sulitnya mendapatkan susu. Dia menduga adanya masalah distribusi, dan permainan pihak tak bertanggungjawab.

“Susu sekolah sekarang sulit sekali. Diduga sudah dipermainkan mafia susu. Harganya melonjak tinggi, bisa sampai Rp130 ribu hingga Rp150 ribu per karton isi 40 biji, padahal biasanya hanya sekitar Rp120 ribuan,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengambilan susu tidak lagi bisa dilakukan di satu lokasi. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan, pihaknya harus mengambil susu hingga ke luar kota dan antar provinsi.

Sementara itu, pemerhati program MBG di Kabupaten Lumajang, Achmad Nurhuda, menyebut tingginya kebutuhan susu sekolah menjadi salah satu faktor utama terjadinya kelangkaan.

“Kebutuhan susu sekolah saat ini sangat tinggi. Di pabrik produsen susu sekolah saja, pesanan dari tiga bulan lalu belum bisa diserahkan sampai sekarang. Kalau memang membutuhkan susu, kami ada ready stock susu pasteurisasi gelas 125ml,” kata Nurhuda.

Keluhan juga datang dari wali murid. Yudha, salah satu orang tua siswa di Kecamatan Kedungjajang, mengaku anaknya sudah beberapa kali tidak mendapatkan susu dalam paket MBG yang diterima di sekolah.

“Di sekolah anak saya, ompreng MBG-nya tidak ada susunya, dan ini sudah beberapa kali terjadi. Padahal MBG tersebut berasal dari SPPG wilayah Kedungjajang,” ungkap Yudha.

Yudha berharap kondisi ini segera mendapat perhatian serius dari semua pihak. Menurutnya, ketiadaan susu dapat mengurangi asupan gizi yang seharusnya diterima anak-anak.

“Yang mengelola SPPG itu seorang dokter. Kalau ompreng tanpa susu, tentu gizinya bisa berkurang. Monggo disikapi bersama demi anak bangsa yang lebih bergizi,” pungkasnya.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id.

 

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60