BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Fenomena lulusan cepat kerja semakin menguat di Universitas Airlangga (Unair). Banyak alumninya kini hanya membutuhkan waktu singkat untuk memasuki dunia profesional setelah wisuda.
Tren ini sekaligus menegaskan bahwa Unair tidak sekadar menghasilkan sarjana, tetapi menyiapkan generasi adaptif dan berdaya saing yang mampu menjawab kebutuhan pasar kerja modern.
Ketua Pusat Pengembangan Karir dan Keberdampakan Alumni (PKKA), Profesor Doktor Nisful Laila SE MComm, mengatakan bahwa berbagai strategi terus ditempuh untuk memastikan lulusan Unair memiliki kesiapan kompetitif.
“Kita akan terus mencoba memperbaiki lagi. Salah satunya yang selama ini kita lakukan adalah memberi pelatihan, sertifikasi, pengembangan soft skill, dan lain sebagainya,” ujarnya.
Nisful Laila menegaskan bahwa penting bagi mahasiswa untuk mengenal lanskap industri sejak awal. Karena itu, Unair aktif membuka ruang interaksi antara mahasiswa dan dunia usaha agar keduanya saling memahami kebutuhan dan kapasitas masing-masing.
“Dengan demikian, industri mengetahui bahwa Unair memiliki mahasiswa dan lulusan yang tidak kalah kompeten dan berdaya saing. Selain itu juga mahasiswa bisa tahu bahwa di luar sana banyak industri bagus yang bisa menjadi tempat mereka mengaplikasikan ilmunya,” jelasnya.
Koordinator Bidang Tracer Study dan Employability PKKA UNAIR, Rizky Amalia SH MH, memaparkan data tracer study lulusan tahun 2024. Dari total 4.372 lulusan, sebanyak 3.944 atau 90,21 persen berhasil memperoleh pekerjaan dalam rentang waktu 0–6 bulan.
Rata-rata waktu tunggu alumni Unair untuk bekerja hanya sekitar 2,34 bulan, dengan median 2 bulan. Angka tersebut mencerminkan posisi kuat lulusan Unair di pasar tenaga kerja.
Rizky menjelaskan bahwa cepat-lambatnya lulusan memperoleh pekerjaan dipengaruhi oleh sejumlah faktor.
Faktor yang mempercepat antara lain pengalaman magang, IPK tinggi, kompetensi teknis yang kuat, keaktifan dalam mengikuti campus hiring dan talent scouting, serta jejaring alumni yang telah berhasil berkarier di berbagai perusahaan.
Namun, ada pula faktor yang memperlambat masa tunggu lulusan. “Misalnya waktu lama untuk rekrutmen seperti PNS atau proses seleksi pada beberapa instansi seperti Kejaksaan dan OJK. Kemudian juga berdasarkan tracer study, beberapa dari mereka mengalami kegagalan tahap wawancara saat mencari pekerjaan,” terangnya.
Lebih dari sekadar angka statistik, hasil tracer study menjadi bahan refleksi dan pijakan strategis bagi Unair dalam meningkatkan employability mahasiswanya.
Temuan tersebut kemudian diterjemahkan dalam berbagai program PKKA untuk memperkuat kesiapan lulusan memasuki dunia kerja.
PKKA UNAIR telah mengimplementasikan sejumlah program sistematis yang berorientasi pada peningkatan kapasitas karier mahasiswa. Program tersebut mencakup magang; campus hiring dan talent scouting melalui kerja sama dengan perusahaan mitra; career preparation program; pelatihan dan sertifikasi; Airlangga Career and Internship Club (ACIC); layanan konseling karier; Airlangga Career Fair; hingga CV ATS Maker yang membantu mahasiswa menyiapkan dokumen lamaran sesuai standar industri digital.
Seluruh inisiatif tersebut menjadi fondasi penting yang memastikan lulusan Unair tidak hanya memenuhi tuntutan pasar, tetapi juga mampu bersaing dan berkembang dalam dunia kerja yang terus berubah.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id.


















