BERITABANGSA.ID, LUMAJANG – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Jember terus mendorong generasi muda untuk lebih mengenal, mencintai, dan menjaga mata uang nasional. Melalui kegiatan sosialisasi gerakan cinta rupiah (GCR), melibatkan pelajar SMA/SMK dan mahasiswa, BI ingin memastikan bahwa kecintaan terhadap rupiah selain sebagai simbol negara, juga diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Dalam kegiatan tersebut, Perwakilan Kantor BI Jember, Adi Purnomo, menyampaikan bahwa cinta rupiah bukan sekadar jargon, melainkan komitmen untuk menghormati dan menggunakan mata uang Indonesia secara benar.
“Cara mencintai rupiah itu sederhana. Mulai dari memperlakukan uang dengan baik, tidak melipat atau merusaknya, hingga mengutamakan transaksi dalam rupiah ketika membeli barang dan jasa di dalam negeri. Rupiah adalah identitas bangsa, sudah sepantasnya kita menjaganya,” ujar Adi.
Adi juga menekankan nilai rupiah yang kuat akan memberi dampak positif pada perekonomian nasional.
“Semakin tinggi kepercayaan kita menggunakan rupiah, semakin kuat pula posisi mata uang kita. Ini soal martabat bangsa,” tambahnya, Sabtu (15/11/2025).
Selain Adi, hadir pula Bayu Setiawan, perwakilan BI Jember lainnya. Ia mengingatkan para pelajar dan mahasiswa mengenai perilaku konsumtif yang kerap menjadi penyebab melemahnya kondisi keuangan pribadi dan secara tidak langsung berdampak pada stabilitas ekonomi.
“Menjaga rupiah juga berarti menjaga pola belanja. Jangan berlebihan, belanjakan sesuai kebutuhan, dan prioritaskan produk dalam negeri,” jelas Bayu.
Ia menegaskan Indonesia membutuhkan masyarakat yang cerdas dalam menggunakan uang, terutama di era perkembangan teknologi yang membuat transaksi digital semakin mudah dan cepat. “Kemudahan belanja bukan alasan untuk menghabiskan tanpa kontrol. Literasi finansial itu bagian dari mencintai rupiah,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Bayu juga memberikan penjelasan mengenai redominasi penyederhanaan nilai mata uang tanpa mengurangi daya beli. Ia menegaskan bahwa langkah ini sudah lama dikaji pemerintah dan memerlukan kesiapan serta pemahaman masyarakat.
“Redominasi bukan penghapusan nilai, tapi penyederhanaan untuk membuat transaksi lebih efisien. Masyarakat perlu siap, terutama dalam memahami perbedaan nominal, sistem pembukuan, dan transaksi elektronik,” katanya.
Para peserta antusias mengikuti penjelasan tersebut, terutama karena isu redominasi kerap memunculkan kesalahpahaman. Melalui sosialisasi ini, para pelajar dan mahasiswa diharapkan dapat menjadi agen informasi yang mampu menyampaikan pemahaman yang benar di lingkungan masing-masing.
Kegiatan sosialisasi GCR ini dinilai penting karena menyasar generasi muda kelompok yang akan menjadi penggerak ekonomi di masa depan.
Dengan pemahaman yang baik mengenai rupiah, BI berharap masyarakat dapat lebih bijak dalam menggunakan, merawat, dan menjaga nilai mata uang Indonesia.
Melalui pendekatan edukatif dan dialog interaktif, BI Jember ingin memastikan bahwa kecintaan terhadap rupiah tidak berhenti sebagai slogan, tetapi terus tumbuh menjadi budaya ekonomi yang sehat.
Gerakan ini bukan hanya milik BI, tetapi milik seluruh masyarakat Indonesia. Rupiah kuat, ekonomi juga kuat dan generasi muda menjadi kuncinya.


















