BERITABANGSA.ID, LUMAJANG – Program penyediaan makanan bergizi gratis Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, (SPPG) di Kebonan, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, menuai sorotan. Belum genap delapan hari beroperasi, SPPG ini sudah menerima berbagai keluhan dari pihak sekolah dan wali murid terkait kualitas dan variasi menu yang dinilai jauh dari harapan.
Sejumlah warga dan pihak sekolah di Desa Kudus, Desa Duren, serta Desa Sumberwringin kompak menyampaikan keluhan atas sajian makanan yang dinilai kurang layak.
Menurut warga sekitar, Beji, menu yang disajikan SPPG Kebonan tidak mencerminkan makanan bergizi sebagaimana tujuan program pemerintah.
“Gizi dari mana, wong bumbunya ada MSG-nya. Anak-anak aja gak mau makan. Beli di warung Rp5.000 saja sudah dapat lauk yang lebih pantas,” ujar Beji, Kamis (6/11/2025).
“Timunnya aja gak dikupas, masih ikut bongkotnya. Menunya juga itu-itu terus, ayam telur, ayam telur. Ngawur Mas,” lanjutnya kesal.
Keluhan serupa juga datang dari sejumlah lembaga pendidikan, mulai TK Al Fattah, TK Dharma Wanita Kudus, hingga SDN Sumberwringin.
Guru SDN Sumberwringin, yang enggan disebut namanya, mengatakan sebagian besar masukan justru datang dari siswa.
“Tadi saya sudah sampaikan ke pihak SPPG-nya. Katanya mau diperbaiki. Untuk hari ini memang ada timun yang masih ada bongkotnya, tahu hambar, bahkan ada yang keasinan,” ujarnya.
“Anak-anak kadang gak berani ngomong karena takut. Jadi saya yang menanyakan langsung untuk memastikan keluhan mereka,” sergahnya.
Meski begitu, tidak semua pihak memberikan penilaian negatif. Guru TK Al Fattah justru menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengajukan komplain resmi terhadap pengelola SPPG.
“Maaf, saya tidak komplain apa-apa. Untuk menunya sebenarnya disukai, hanya tampilannya memang kurang menarik bagi anak-anak TK, apalagi kelompok bermain,” ungkapnya.
Program SPPG Kebonan yang dikelola oleh Kiai Hamid itu semestinya menjadi upaya pemerintah daerah dalam memastikan anak-anak sekolah dasar dan taman kanak-kanak memperoleh asupan makanan sehat, bergizi, dan variatif setiap harinya.
Namun, hingga berita ini diturunkan, pemilik SPPG Kebonan, Kiai Hamid, belum memberikan tanggapan meski telah dikonfirmasi oleh media ini.
Masyarakat berharap, pemerintah daerah segera melakukan evaluasi terhadap kualitas dan pengawasan pelaksanaan SPPG agar tujuan mulia program ini tidak tercoreng oleh lemahnya pengawasan dan kurangnya kontrol mutu makanan.
“Kami berharap segera diperbaiki, jangan sampai anak-anak malah gak mau makan karena rasanya gak enak atau tampilannya asal-asalan,” pungkas salah satu guru di Klakah.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id


















