Pendidikan

Angkat Isu Sejarah Semu, Mahasiswa UNAIR Raih Juara II Lomba Esai UNS

14
×

Angkat Isu Sejarah Semu, Mahasiswa UNAIR Raih Juara II Lomba Esai UNS

Sebarkan artikel ini
unair

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Fenomena pseudohistory atau sejarah semu yang kian marak di Indonesia memantik kepedulian akademik mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR).

Dari keresahan terhadap penyebaran narasi sejarah keliru inilah, dua mahasiswa FIB UNAIR, Abdullah Muhammad Irsyad Syafiudin dan Kesya Azka Najhan, berhasil menorehkan prestasi membanggakan sebagai Juara II Lomba Esai Sanskerta yang digelar Universitas Sebelas Maret (UNS), Minggu (12/10/2025).

Kompetisi yang mengusung tema “Sejarah dan Kebudayaan” tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengkaji fenomena historis Indonesia secara kritis dan ilmiah.

Melalui karya esainya, Irsyad menyoroti tren pseudohistory yang banyak beredar di ruang publik, terutama pasca reformasi 1998.

Ia memaparkan bahwa kebebasan berekspresi yang muncul setelah reformasi memang membuka ruang diskusi luas bagi masyarakat, namun di sisi lain juga memunculkan tantangan baru berupa penyebaran informasi sejarah yang tidak terverifikasi secara akademik.

“Kami menemukan pola bahwa pseudohistory mulai banyak beredar setelah reformasi. Di satu sisi, keterbukaan informasi memberi ruang bagi masyarakat untuk berdiskusi, tapi di sisi lain juga membuka peluang munculnya klaim sejarah yang tidak benar,” jelas Irsyad.

Berangkat dari fenomena tersebut, tim mahasiswa UNAIR menawarkan solusi yang berfokus pada penguatan komunikasi antara sejarawan akademik dan masyarakat luas.

Menurut Irsyad, salah satu penyebab menjamurnya sejarah semu adalah lemahnya jembatan komunikasi antara dunia akademik dan publik. Ia menekankan pentingnya peran sejarawan dalam memberikan edukasi berbasis data dan riset kepada masyarakat.

“Sejarawan tidak boleh hanya berkutat di ruang akademik. Mereka harus menjadi garda terdepan penjaga kebenaran sejarah bangsa. Ketika ada isu yang menyesatkan, sejarawan perlu hadir untuk memberikan penjelasan yang berbasis data dan riset,” tegasnya.

Lebih lanjut, Irsyad menilai perlunya model komunikasi sejarah yang lebih inklusif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Salah satunya dengan mengembangkan kanal edukasi sejarah di media sosial yang menyajikan informasi secara menarik tanpa mengorbankan substansi akademik. Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai wujud nyata komunikasi publik yang efektif.

“Kanal edukasi sejarah memberi contoh bagaimana sejarah bisa disampaikan dengan cara yang menarik tanpa kehilangan substansi akademik. Pola komunikasi seperti itu yang kami jadikan inspirasi,” imbuhnya.

Irsyad berharap gagasan yang diusungnya tidak berhenti pada ajang lomba semata, tetapi dapat menjadi inspirasi kolaborasi antara akademisi dan publik dalam memperkuat literasi sejarah nasional.

“Saya berharap masyarakat semakin kritis terhadap informasi sejarah yang beredar, dan mahasiswa UNAIR terus aktif menyuarakan nilai-nilai kebenaran,” pungkasnya.

Prestasi yang diraih dua mahasiswa FIB UNAIR ini menjadi bukti bahwa pemikiran kritis dan kepedulian terhadap kebenaran sejarah masih tumbuh subur di kalangan akademisi muda.

Di tengah derasnya arus informasi digital, semangat ilmiah semacam ini menjadi kunci menjaga integritas pengetahuan dan warisan sejarah bangsa.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60