BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Semangat inovasi dan kepedulian terhadap lingkungan mengantarkan Eka Rachma Aprilidanti, mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol (TRIK), Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR), menjadi salah satu finalis Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Nasional 2025.
Sosok yang dikenal sebagai inventor muda ini menciptakan terobosan teknologi ramah lingkungan bernama AIRMON (Air Monitoring System), sebuah alat pendeteksi gas polutan berbahaya berbasis Internet of Things (IoT).
Berangkat dari keresahan terhadap tingginya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Jawa Timur yang mencapai 130.683 kasus pada tahun 2023, Eka menggagas AIRMON sebagai solusi pemantauan udara di kawasan permukiman yang berdekatan dengan area industri.
“Teknologi ini saya rancang bukan hanya untuk mendeteksi, tetapi juga sebagai langkah mitigasi awal agar masyarakat lebih waspada terhadap bahaya polusi udara,” ungkap Eka.
AIRMON dirancang untuk mendeteksi enam parameter gas toksik secara real-time, meliputi karbon monoksida (CO), amonia (NH₃), nitrogen dioksida (NO₂), metana (CH₄), etanol (C₂H₅OH), dan hidrogen (H₂).
Inovasi ini juga dilengkapi dengan sistem peringatan dini berbasis platform digital yang mampu mengirimkan notifikasi ketika kadar gas berbahaya melebihi ambang batas aman.
“Melalui sistem early warning alarm yang terintegrasi dengan IoT, masyarakat bisa mendapatkan informasi kualitas udara secara langsung dan cepat,” jelasnya.
Dengan rekam jejak lebih dari 30 penghargaan di tingkat nasional dan internasional, serta tiga hak cipta dan satu paten yang sedang dalam proses, Eka optimistis AIRMON dapat dikembangkan menjadi sistem pemantauan udara yang terintegrasi secara nasional.
Ia berharap kolaborasi lintas sektor dapat terwujud, terutama dari Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Kementerian Hukum dan HAM untuk mendukung legalitas dan standarisasi teknologi tersebut.
Eka menargetkan implementasi AIRMON di wilayah Gerbangkertosusila—meliputi Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan, yang dikenal memiliki tingkat polusi udara cukup tinggi namun belum seluruhnya terpantau oleh stasiun Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
“Ke depan, saya sangat berharap AIRMON bisa mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Dukungan itu penting, terutama dalam hal legalitas, uji SNI, serta perluasan implementasi di lapangan agar alat ini benar-benar dapat dimanfaatkan masyarakat secara luas,” ujarnya.
Berkat inovasi dan dedikasinya, Eka akan mewakili Universitas Airlangga dalam ajang Pilmapres Nasional 2025 yang akan digelar pada 24–29 Oktober mendatang di Universitas Diponegoro.
Ia akan bersaing dengan mahasiswa berprestasi lainnya dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, membawa semangat bahwa inovasi teknologi tidak hanya soal kemajuan, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id


















