Terkini

Panen Raya Tembakau Madura Diwarnai Penurunan Kualitas Akibat Cuaca Ekstrem

34
×

Panen Raya Tembakau Madura Diwarnai Penurunan Kualitas Akibat Cuaca Ekstrem

Sebarkan artikel ini
Tembakau Madura
Tampak tembakau Madura saat masih di sawah/ladang dan saat di panen, setelah disimpan selama 4 hari. (Foto: Mwd, Beritabangsa.id).

BERITABANGSA.ID, PAMEKASAN – Musim panen raya tembakau di Pulau Madura, khususnya wilayah Kabupaten Pamekasan, resmi dimulai. Namun, seperti yang telah diprediksi sebelumnya, anomali cuaca pada musim kemarau tahun ini berpengaruh signifikan terhadap kualitas tembakau rajangan yang dihasilkan petani.

Sebagian besar petani mengakui mutu dan berat bersih (netto) tembakau tahun ini menurun dibanding musim sebelumnya.

Kondisi tersebut disebabkan oleh faktor alam, terutama cuaca ekstrem dan angin kencang yang melanda sejak pertengahan musim tanam. Akibatnya, kadar air dan berat rajangan tembakau menurun hingga sekitar 20 persen.

Penurunan kualitas ini berdampak langsung pada harga jual di tingkat petani. Sejumlah pedagang besar yang terafiliasi dengan pabrikan rokok nasional seperti Gudang Garam, Djarum, Sampoerna, Wismilak, dan Sukun mematok harga lebih rendah dibanding tahun lalu.

Meski demikian, mereka beralasan bahwa penurunan harga ini masih proporsional dengan kondisi mutu daun yang kurang optimal.

Salah satu petani sekaligus penebas tembakau mentah asal Desa Lemper, Kecamatan Pademawu, Hozainuddin, mengungkapkan bahwa penurunan kualitas memang tidak bisa dihindari.

Namun ia berharap harga di pasaran tetap stabil agar kerugian petani tidak semakin besar.

“Memang mutu tembakau tahun ini menurun karena cuaca tidak menentu. Tapi harapan kami, harga jangan turun drastis. Setidaknya stabil seperti tahun lalu agar kerugian tidak terlalu besar,” ujarnya saat ditemui di sela aktivitas perajangan, Sabtu (5/10/2025).

Hozainuddin menambahkan, hasil panen dari lahan miliknya tahun ini mengalami penurunan sekitar 10 hingga 20 persen dibanding musim sebelumnya. Hal itu membuatnya lebih berhati-hati dalam membeli tembakau mentah dari petani lain.

Tembakau Madura
Aktivis saat perajangan tembakau Madura. (Foto: Mwd, Beritabangsa.id).

“Saya tidak berani membeli banyak karena kualitas tidak sebaik tahun lalu. Tapi saya tetap berharap harga bisa kembali normal,” katanya.

Saat ini, ia sedang merajang tembakau asal Sumenep yang dibelinya langsung dari petani. Total ada delapan bal, masing-masing dengan berat antara 40 hingga 50 kilogram.

Ia menargetkan harga jual bisa mencapai di atas Rp50.000 per kilogram jika kondisi pengeringan berjalan optimal.

Cuaca menjadi faktor paling menentukan dalam produksi tembakau, terutama di wilayah Madura yang mengandalkan pola iklim kering. Idealnya, tembakau tumbuh baik pada musim kemarau yang stabil dan bebas hujan.

Kelembapan udara yang tinggi akibat hujan di tengah masa panen dapat menurunkan kadar nikotin dan aroma khas tembakau rajangan Madura.

Selain itu, daun menjadi lebih tebal, berwarna gelap, dan sulit kering sempurna, sehingga kualitas menurun di mata industri rokok kretek.

Namun, menurut Hozainuddin, ada tanda-tanda positif bahwa cuaca mulai kembali normal. “Sekarang sudah mulai panas stabil. Kalau proses pengeringan berjalan maksimal, mudah-mudahan harga kembali membaik,” tuturnya optimistis.

Meski demikian, fluktuasi iklim yang tidak menentu menjadi tantangan tersendiri bagi petani tembakau di Madura. Ketergantungan tinggi terhadap cuaca kering membuat mereka sangat rentan terhadap perubahan iklim.

Kondisi ini menunjukkan perlunya strategi adaptasi dan kebijakan yang lebih berpihak pada petani, agar komoditas unggulan Madura ini tetap menjadi penopang ekonomi masyarakat di masa mendatang.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60