Pendidikan

ARSHA Spensabaya Ajak Siswa dan Orang Tua Kenali Tanda Skoliosis

41
×

ARSHA Spensabaya Ajak Siswa dan Orang Tua Kenali Tanda Skoliosis

Sebarkan artikel ini
ARSHA Spensabaya
Suasana saat kegiatan ARSHA di Aula SMPN 1 Surabaya. ((Foto: Mwd, Beritababgsa.id).

Dokter spesialis ortopedi, dokter Erreza Rahardiansyah, menjelaskan skoliosis merupakan kelainan bentuk tulang belakang yang melengkung ke samping. Kondisi ini dapat mulai terlihat pada usia remaja, termasuk ketika anak duduk di bangku sekolah menengah pertama.

“Skoliosis kadang tidak terdeteksi dan memang tidak ada keluhan. Karena itu, deteksi dini sangat penting supaya kita bisa melakukan intervensi jika terjadi masalah di kemudian hari,” ujarnya.

Menurut Erreza, usia SMP menjadi salah satu periode penting untuk melakukan skrining karena anak masih berada dalam masa pertumbuhan.

Pemantauan dapat membantu tenaga medis mengenali kemungkinan skoliosis dan menentukan langkah penanganan berdasarkan kondisi masing-masing pasien.

Ia mengibaratkan tulang belakang seperti sistem keseimbangan pada mobil. Ketika keseimbangan terganggu, otot-otot di sekitar tulang belakang dapat bekerja lebih berat untuk mempertahankan postur tubuh.

ARSHA Spensabaya
Kepala SMPN 1 Surabaya, Eko Widayani, S.Pd., M.Pd., (tengah), dr. Siska Citra Amalia, Sp.THT-BKL.
Ketua Komite SMNN1 Surabaya (kanan),
Dr Henriette Agustia Wijayanti, Ketua Panitia Arsha 2026 (kiri) dan dr. Erreza Rahardiansyah, Sp.OT., Subsp. OTB(K), foto bersama usai wawancara. (Foto: Mwd, Beritabangsa.id).

Jika kelengkungan bertambah dan tidak terpantau, penanganan dapat menjadi lebih kompleks. Pada kondisi tertentu, terutama ketika kelengkungan tergolong berat atau terus berkembang, operasi mungkin diperlukan. Namun, tidak semua kasus skoliosis membutuhkan tindakan bedah.

Penanganan ditentukan berdasarkan sejumlah faktor, antara lain derajat kelengkungan tulang belakang, usia pasien, sisa pertumbuhan, dan perkembangan kondisi dari waktu ke waktu.

Pilihan penanganan dapat berupa pemantauan berkala, latihan atau fisioterapi sesuai indikasi, penggunaan penyangga atau brace pada kasus terpilih, hingga operasi untuk kondisi tertentu.

Dalam edukasi tersebut, siswa dan orang tua juga diperkenalkan dengan enam tanda fisik yang dapat mengindikasikan kemungkinan skoliosis.

Tanda-tanda itu meliputi salah satu bahu yang tampak lebih tinggi, salah satu tulang belikat yang lebih menonjol, garis pinggang kanan dan kiri yang tidak simetris, salah satu sisi panggul yang lebih tinggi, tubuh yang terlihat condong ke satu sisi, serta salah satu sisi punggung yang lebih menonjol ketika anak membungkuk ke depan.

Pemeriksaan dengan membungkukkan badan ke depan dikenal sebagai Adam Forward Bend Test. Pemeriksaan ini dapat membantu mengidentifikasi ketidaksimetrisan punggung yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.

Selain pengamatan postur, pemeriksaan skoliosis dapat melibatkan pengukuran sudut rotasi batang tubuh menggunakan skoliometer.

Jika ditemukan indikasi yang memerlukan pemeriksaan lanjutan, dokter dapat menentukan kebutuhan pemeriksaan radiologi untuk mengukur sudut kelengkungan tulang belakang.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 468x60