Icang menegaskan deteksi dini menjadi bagian penting dalam pengendalian TBC. Semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula penanganan medis dan langkah perlindungan dapat dilakukan untuk menekan risiko penularan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Namun, partisipasi masyarakat dalam kegiatan skrining masih menjadi persoalan. Jumlah warga yang mengikuti penjaringan disebut belum sesuai dengan harapan Dinas Kesehatan Kota Batu.
“Deteksi dini merupakan kunci utama dalam pengendalian TBC. Namun hingga saat ini, jumlah masyarakat yang mengikuti skrining masih belum sesuai dengan yang kami harapkan,” kata Icang.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu, Aditya Prasaja, mengatakan salah satu kendala berasal dari anggota keluarga pasien yang menolak pemeriksaan karena merasa sehat dan tidak mengalami gejala. Kondisi tersebut turut memengaruhi rendahnya partisipasi dalam program Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), yang baru mencapai sekitar 30 persen.
Menurut Aditya, anggapan bahwa kondisi tubuh yang sehat berarti terbebas dari risiko TBC perlu diluruskan. Anggota keluarga yang tinggal serumah maupun mereka yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC aktif termasuk kelompok yang berpotensi terpapar Mycobacterium tuberculosis.
“Yang masih menjadi kendala adalah banyak anggota keluarga pasien menolak diperiksa karena merasa sehat. Padahal mereka merupakan kontak erat yang memiliki potensi tertular,” ujar Aditya.
Ia mengatakan pengendalian TBC tidak hanya dilakukan melalui pengobatan terhadap pasien yang telah terkonfirmasi. Pemeriksaan terhadap anggota keluarga dan kontak erat juga diperlukan. Bagi mereka yang memenuhi syarat berdasarkan penilaian tenaga medis, terapi pencegahan dapat diberikan untuk mencegah infeksi berkembang menjadi TBC aktif.
“Kami tidak hanya berfokus pada pengobatan pasien TBC, tetapi juga memberikan terapi pencegahan kepada anggota keluarga maupun kontak erat agar penyebaran penyakit dapat dihentikan sedini mungkin,” katanya.
Dinas Kesehatan Kota Batu mengimbau masyarakat, terutama mereka yang pernah atau sedang tinggal serumah dengan pasien TBC, tetap menjalani pemeriksaan meski tidak mengalami gejala.
“Kami berharap masyarakat tidak takut menjalani pemeriksaan. Semakin cepat TBC ditemukan, semakin cepat pula pengobatan dilakukan sehingga risiko penularan kepada keluarga maupun lingkungan sekitar dapat diminimalkan,” ujar Aditya.













