BERITABANGSA.ID, MANOKWARI – Persoalan akses air bersih yang telah dihadapi warga Kampung Bowi Subur, Distrik Masni, Manokwari, Papua Barat, sejak kawasan itu dihuni masyarakat transmigrasi pada 1985 mendorong Tim 8 Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (UNAIR) melakukan survei dan pemetaan sumber air bersih.
Pemetaan dilakukan di kawasan transmigrasi SP6 Kampung Bowi Subur untuk memperoleh basis data mengenai akses air aman, capaian lima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), serta potensi sumber air lokal yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat.
Tim yang dipimpin Sudarmaji bersama Leonardo Sayuna, Muhammad Nurriyanto, Zulfa Azzahra Mulia Putri, Muhammad Rafi Mufti, dan Titin Noerhalimah turun langsung ke lapangan. Mereka memetakan kondisi permukiman, sumber air, serta akses sanitasi di seluruh wilayah Kampung Bowi Subur, termasuk 13 jalur permukiman di kawasan SP6.
Persoalan air bersih di wilayah tersebut bukan masalah baru. Berdasarkan keterangan Kepala Distrik Masni, masyarakat masih menghadapi rendahnya kualitas air bersih. Air sumur, misalnya, dilaporkan berwarna keruh dan berbau. Kuantitas air juga cenderung terbatas.
Kondisi itu turut dirasakan warga Bowi Subur. Selama bertahun-tahun, masyarakat mengandalkan berbagai sumber air yang tersedia, mulai dari air sungai dan penampungan air hujan hingga air tanah yang disaring menggunakan metode filtrasi tradisional sederhana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Untuk memperoleh gambaran kondisi secara lebih menyeluruh, Tim 8 Ekspedisi Patriot UNAIR menjalankan pemetaan lapangan selama kurang lebih 42 hari sejak 7 Agustus 2026.
“Kegiatan survei dan pemetaan menyasar seluruh wilayah kampung, termasuk 13 jalur pemukiman di SP6. Seluruh proses pemetaan dilakukan secara mandiri oleh anggota tim dengan memanfaatkan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG),” kata Sudarmaji.
Pemanfaatan teknologi SIG memungkinkan tim mengolah data spasial secara lebih akurat. Melalui pemetaan digital tersebut, titik-titik lokasi yang dinilai paling optimal untuk distribusi air aman dapat ditentukan sehingga penyalurannya kepada masyarakat diharapkan berlangsung lebih efektif dan efisien.
Selain pemetaan, Tim 8 Ekspedisi Patriot UNAIR mengambil sampel air untuk mengetahui kondisi kualitas air secara lebih objektif. Sampel tersebut selanjutnya akan diperiksa di laboratorium.
Hasil pengujian menjadi salah satu dasar untuk menentukan alternatif intervensi yang sesuai dengan kondisi setempat.
Dari hasil survei dan pemetaan itu, sejumlah alternatif penyediaan air sedang dipertimbangkan. Di antaranya pembangunan sumur bor komunal di lokasi strategis, pengembangan media filtrasi untuk pengolahan air, serta instalasi penampungan air hujan dengan kapasitas yang disesuaikan dengan kebutuhan.
“Kedepannya, intervensi yang akan dilakukan terdiri dari pembangunan sumur bor komunal, pembuatan media filtrasi, dan instalasi penampungan air hujan,” ujar Sudarmaji.
Kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat pemantauan kualitas air melalui Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT).
Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai kondisi air yang digunakan masyarakat sekaligus mendukung peningkatan kualitas kesehatan lingkungan.
Pemetaan akses air dan sanitasi di Kampung Bowi Subur menjadi bagian dari kegiatan Ekspedisi Patriot sekaligus kontribusi UNAIR terhadap pembangunan berkelanjutan.
Program tersebut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 tentang Clean Water and Sanitation melalui upaya peningkatan akses masyarakat terhadap air yang aman dan sanitasi yang layak.
Kegiatan ini juga sejalan dengan SDG 10 tentang Reduced Inequalities. Pemetaan dan pengembangan alternatif penyediaan air diarahkan untuk membantu mengurangi kesenjangan akses terhadap layanan dasar bagi masyarakat di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur.


















