Terkini

Festival Semarak Merah Putih Ditunda, Panitia Tegaskan Bukan Event Abal-abal

2
×

Festival Semarak Merah Putih Ditunda, Panitia Tegaskan Bukan Event Abal-abal

Sebarkan artikel ini
Festival Semarak Merah Putih
Sejumlah Panitia kegiatan saat melakukan koordinasi internal terkait penundaan kegiatan

Menurutnya, panitia sengaja membatasi jumlah tenant agar setiap pelaku usaha memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan perhatian pengunjung.

“Untuk pelaku usaha, kami plot hanya 30–50 tenant saja. Kami ingin konsepnya eksklusif dan tidak sekadar ramai sesaat. Setelah kegiatan ini, arahnya adalah pembinaan dan keberlanjutan,” ujar Fuad.

Ia menegaskan bazar tidak diperuntukkan bagi kelompok maupun komunitas tertentu.

“Ini murni untuk pelaku usaha warga Kabupaten Lumajang. Tidak memilih dari kelompok atau komunitas tertentu,” tegasnya.

Bahkan, konsep bazar tersebut ditargetkan berkembang menjadi agenda yang lebih berkelanjutan.

“Kedepan kami akan konsen membuat kegiatan rutin bulanan dalam event-event besar.

Harapannya bisa ikut meningkatkan perekonomian masyarakat Kabupaten Lumajang,” katanya.

Ditunda Bukan Berarti Batal. Penundaan Festival Semarak Merah Putih justru menjadi tantangan tersendiri bagi panitia. Sebab, festival yang semula dijadwalkan pada 28–30 Agustus 2026 tersebut sejak awal diarahkan menjadi ruang bersama bagi masyarakat Lumajang.

Panitia harus memastikan perubahan jadwal tidak menghilangkan substansi kegiatan, sekaligus memberikan kepastian kepada peserta, pelaku UMKM, komunitas olahraga, pengisi acara dan pihak pendukung.

Di sisi lain, klaim mengenai legalitas dan administrasi penyelenggaraan tentu tetap harus dibuktikan melalui dokumen resmi serta pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan seluruh ketentuan yang berlaku.

Panitia menyatakan rekomendasi serta dokumen penggunaan tempat telah disiapkan sebagai bagian dari proses penyelenggaraan.

Bukan Sekadar Ramai, Harus Ada Dampak. Festival Semarak Merah Putih membawa gagasan yang cukup sederhana namun penting: perayaan kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada seremoni.

Musik memberikan ruang bagi seniman dan talenta lokal. Olahraga membuka ruang partisipasi masyarakat. Sementara UMKM mendapatkan kesempatan memperkenalkan sekaligus menjual produk mereka.

Di tengah tantangan pelaku UMKM dalam pemasaran, terbatasnya ruang tampil bagi talenta lokal dan kebutuhan masyarakat terhadap kegiatan olahraga yang terbuka, festival semacam ini berpotensi menjadi ruang temu berbagai kepentingan masyarakat. Tetapi tantangannya juga jelas.
Festival tidak cukup hanya meriah. Ukuran keberhasilannya harus terlihat dari dampaknya terhadap masyarakat.

Apakah UMKM benar-benar mendapatkan transaksi? Apakah pelaku seni lokal mendapatkan ruang? Apakah masyarakat memperoleh hiburan yang aman dan tertib? Dan yang tak kalah penting, apakah seluruh proses penyelenggaraannya benar-benar berjalan sesuai aturan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pekerjaan rumah panitia ketika festival nantinya kembali digelar. Nurhuda kembali menegaskan bahwa masyarakat menjadi ruh utama kegiatan tersebut.

“Dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat Lumajang. Kami ingin HUT Kemerdekaan RI ke-81 ini benar-benar dirasakan bersama, bukan hanya menjadi seremoni. Maka dari itu, kami butuh memaksimalkan kegiatan ini lebih baik lagi,” katanya.

Dengan perpaduan musik, olahraga dan UMKM, Festival Semarak Merah Putih diharapkan tidak sekadar menjadi agenda hiburan yang muncul sesaat.

Tiga hari boleh ditunda. Tetapi semangat Merah Putih tidak boleh ikut tertunda.
Satu panggung kebersamaan tetap menjadi pesan utama yang ingin dibawa panitia: Merah Putih bukan hanya untuk dikibarkan, tetapi juga dirayakan melalui karya, prestasi dan keberdayaan masyarakat Lumajang.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60