Terkini

Era AI Menguat, Abdul Rohim Ingatkan Pentingnya Pesantren Jaga Akhlak Generasi Muda

2
×

Era AI Menguat, Abdul Rohim Ingatkan Pentingnya Pesantren Jaga Akhlak Generasi Muda

Sebarkan artikel ini
Abdul Rohim
H. Abdul Rohim, Pembina Majelis Ar-Rohimin, Surabaya dengan latar belakang jemaah muslimat di luar Gedung Majelis Ar-Rohimin yang sedang mengikuti acara rutinan Rabu malam.

Abdul Rohim mengingatkan kembali peristiwa 10 November dan kaitannya dengan Resolusi Jihad yang menurutnya digerakkan oleh pesantren dan para ulama.

“Jangan lupakan sejarah. Ketika peristiwa 10 November dulu, yang menjadi penggerak lahirnya Resolusi Jihad muncul dari pesantren dan para ulama,” tuturnya.

Sejarah tersebut, menurut Abdul Rohim, menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia memiliki perjalanan panjang yang diwarnai darah dan patriotisme.

Karena itu, setelah 81 tahun Indonesia merdeka, tantangan yang dihadapi bangsa juga perlu dijawab dengan kesiapan generasi.

Kini tantangan itu hadir dalam bentuk yang berbeda. Arus informasi semakin cepat, sementara teknologi semakin mudah digunakan.

Kehadiran artificial intelligence atau AI membuat masyarakat kembali dituntut memiliki kemampuan untuk memeriksa informasi sebelum mempercayainya.

Abdul Rohim menilai masyarakat yang menerima informasi secara mentah berpotensi kehilangan kemampuan untuk melihat persoalan secara jernih. Kondisi itu juga dapat memunculkan ketidakpercayaan kepada pemerintah.

Ia meyakini berbagai program pemerintah untuk menjawab perkembangan teknologi dapat berjalan apabila masyarakat ikut berperan. Namun, pelaksanaannya dapat terganggu jika terdapat oknum yang menyalahgunakan keadaan.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pendidikan dalam keluarga.

“Ini kembali kepada cara kita mendidik anak-anak. Apakah kita akan membiarkan mereka terseret arus teknologi, atau kita mendidik mereka dengan cara memasukkan mereka ke pesantren,” kata Abdul Rohim.

Bagi dia, pesantren merupakan salah satu ruang untuk membentuk generasi yang memiliki akhlak ketika menghadapi perubahan zaman.

Pendidikan agama dibutuhkan agar generasi muda tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memiliki pertimbangan ketika berhadapan dengan informasi.

Persoalan penyaringan informasi juga berlaku terhadap berbagai kabar mengenai pondok pesantren. Abdul Rohim mengakui adanya kabar miring mengenai pesantren.

Namun, ia meminta masyarakat tidak serta-merta menggeneralisasi seluruh pesantren berdasarkan persoalan yang dilakukan segelintir orang.

Menurutnya, satu kesalahan dapat menutupi banyak kebaikan yang telah dilakukan.

“Sudah menjadi kodrat manusia, ketika seribu kebaikan hancur hanya dengan satu kesalahan,” ujarnya.

Karena itu, informasi mengenai pesantren maupun informasi lain yang beredar di media sosial, menurut dia, harus diperiksa terlebih dahulu.

“Semua informasi yang ada di media sosial jangan ditelan mentah-mentah. Harus ada filter. Bersikap dewasa, matang dalam berpikir, punya pandangan jauh ke depan. Kroscek dulu kebenarannya, baru kita menarik kesimpulan,” katanya.

Dalam pandangan Abdul Rohim, peran pesantren dalam pembangunan insan berakhlak terletak pada kemampuannya memberikan ruang bagi generasi muda untuk memperdalam ilmu agama sekaligus membangun sikap dalam menghadapi perubahan.

Pesantren dan majelis taklim, menurut dia, tidak harus diposisikan berhadapan dengan kemajuan teknologi. Justru di tengah perkembangan tersebut, keduanya dapat menjadi ruang untuk membangun kemampuan menyaring informasi dan menjaga akhlak.

Ia berharap majelis taklim, pengajian, mimbar selawat dan berbagai kegiatan syiar Islam dapat menjadi titik awal bagi masyarakat untuk belajar bersikap lebih dewasa menghadapi perubahan zaman.

Yang tidak kalah penting, kata Abdul Rohim, masyarakat perlu menggali ilmu agama dari sumber yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60