BERITABANGSA.ID, LUMAJANG — Tren “freestyle viral” yang marak di media sosial kini memicu kekhawatiran serius di dunia pendidikan. SD Negeri Citrodiwangsan 02 Lumajang pun mengambil langkah cepat dengan mengeluarkan warning (peringatan,red) kepada seluruh wali murid menyusul adanya kasus cedera serius yang dialami siswa akibat meniru aksi berbahaya tersebut.
Kepala Sekolah (KS) SD Negeri Citrodiwangsan 02 Lumajang, Rara Widuri, menegaskan fenomena ini sudah berada pada tahap mengkhawatirkan dan tidak bisa lagi dianggap sebagai sekadar tren hiburan anak-anak.
“Kami mencatat ada beberapa kejadian siswa mengalami cedera serius, bahkan hingga patah tulang karena meniru aksi freestyle yang mereka lihat di media sosial. Ini menjadi perhatian serius kami,” ujar Rara, Jumat (8/5/2026).
Menurutnya, kemudahan akses terhadap konten digital tanpa pendampingan membuat anak-anak rentan meniru aksi ekstrem tanpa memahami risiko yang mengintai. Ia menyebut, sebagian besar siswa hanya melihat sisi “keren” dari aksi tersebut tanpa menyadari potensi bahaya yang bisa mengancam keselamatan mereka.
Sebagai langkah preventif, pihak sekolah meminta kerja sama aktif dari orang tua/wali murid untuk melakukan pengawasan lebih ketat terhadap aktivitas anak, baik di rumah maupun di lingkungan sekitar.
Dalam imbauannya, sekolah menekankan empat poin penting, pertama mengingatkan anak agar tidak meniru aksi freestyle berbahaya, kedua mengawasi aktivitas bermain anak secara intensif, ketiga mengarahkan anak pada kegiatan yang aman dan positif dan keempat menanamkan kesadaran pentingnya keselamatan diri dan orang lain.
Rara menegaskan bahwa pendidikan karakter juga menjadi kunci dalam menghadapi fenomena ini.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa keberanian bukan berarti mengambil risiko yang membahayakan diri. Tapi berani belajar, berani bertanggung jawab, dan berani menjadi lebih baik setiap hari,” tegasnya.
Fenomena ini turut mendapat sorotan dari salah satu praktisi pendidikan di Kabupaten Lumajang, Achmad Nurhuda. Ia menilai tren “freestyle viral” merupakan dampak dari rendahnya literasi digital pada anak dan keluarga.
“Anak-anak belum punya kemampuan menyaring konten. Tanpa pendampingan, mereka mudah meniru apa yang viral, termasuk yang berbahaya. Ini harus jadi perhatian bersama,” ungkapnya.
Di sisi lain, kekhawatiran juga datang dari kalangan wali murid. Salah satu orang tua siswa mengaku anaknya sempat mencoba meniru aksi yang dilihat dari media sosial.
“Anak saya sempat loncat dari tempat tinggi karena katanya ikut tren. Setelah itu saya langsung lebih ketat mengawasi,” tambahnya.
Peringatan dari SDN Citrodiwangsan 02 menjadi alarm keras bagi semua pihak bahwa tren di media sosial tidak selalu aman untuk ditiru. Tanpa kontrol dan edukasi yang tepat, fenomena viral bisa berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan anak-anak.


















