BERITABANGSA.ID, LUMAJANG – Kelangkaan LPG 3 kilogram (gas melon) di Kabupaten Lumajang memicu kepanikan warga. Tak hanya antre di toko pengecer, sejumlah warga bahkan berburu gas hingga keluar kecamatan, namun tetap pulang dengan tangan kosong.
Situasi ini terjadi di berbagai wilayah Lumajang sejak beberapa hari terakhir. Gas bersubsidi yang seharusnya mudah diakses masyarakat kecil justru sulit ditemukan di pangkalan maupun toko pengecer, memaksa warga berkeliling jauh demi mendapatkan satu tabung gas.
Salah satu warga Kelurahan Rogotrunan, Kecamatan Lumajang, Abdul Basith, mengaku sudah menyisir sejumlah toko kecil di kawasan kota sejak pagi hari.
“Saya sudah keliling ke beberapa toko kecil di seputaran kota, Senin (6/4/2026) hari ini tetap kosong semua. Tidak ada LPG melon sama sekali,” keluh Basith.
Menurutnya, kelangkaan ini tidak hanya terjadi di wilayah kota. Ia bahkan mendapat informasi bahwa di kecamatan lain harga gas melon sudah melonjak tinggi.
“Di Kecamatan Kunir ada yang jual sampai Rp25 ribu per tabung. Itu pun katanya sulit didapat,” katanya kepada wartawan.
Warga keliling hingga empat kecamatan, gas tetap tak ada. Cerita lebih ekstrem datang dari Iwan, warga Kelurahan Tompokersan, Kecamatan Lumajang. Ia mengaku sejak pagi berkeliling sambil bekerja untuk mencari gas melon ke beberapa kecamatan sekaligus.
Perjalanannya dimulai dari Kecamatan Pronojiwo, kemudian berlanjut ke Candipuro, Pasirian, hingga Tempeh. Namun hasilnya nihil.
“Sejak pagi saya cari sambil kerja. Dari Pronojiwo, Candipuro, Pasirian sampai Tempeh, semua toko pengecer LPG 3 kilogram kosong. Tidak ada stok,” ungkap Iwan bercerita.
Ia juga mencoba mencari gas di Pasar Pasirian, yang biasanya menjadi tempat alternatif masyarakat mendapatkan LPG. Namun kondisinya tetap sama.
“Saya masuk ke Pasar Pasirian juga kosong. Beberapa pangkalan juga bilang stok habis. Kalau begini alamat tidak bisa masak lagi di rumah,” ujarnya dengan nada kesal.
Pedagang kecil ikutan tercekik, kelangkaan ini juga mulai memukul usaha kecil yang sangat bergantung pada gas melon untuk berjualan.
Seorang penjual batagor asal Desa Karangsari mengaku kesulitan mendapatkan gas untuk aktivitas jualannya. Bahkan ia hanya diberi jatah satu tabung oleh toko pengecer.
“Saya cuma dijatah satu tabung saja. Padahal kebutuhan saya dua tabung, satu buat jualan batagor dan satu buat kebutuhan rumah tangga,” ucapnya saat ditanyai awak media ini saat berjualan di salah satu lembaga pendidikan siang tadi.
Menurutnya, jika kondisi ini terus berlanjut, usahanya bisa terancam berhenti sementara.
“Kalau gas tidak ada, ya tidak bisa jualan. Ini yang jadi masalah buat pedagang kecil seperti saya,” keluhnya.
Warga dijatah satu tabung. Keluhan serupa juga disampaikan Hariyadi, warga Desa Selokbesuki, Kecamatan Sukodono. Ia mengaku biasanya membutuhkan tiga tabung LPG 3 kg untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Namun karena stok langka, toko pengecer hanya memberikan satu tabung saja.
“Biasanya saya butuh tiga tabung. Tapi sekarang sama toko cuma dijatah satu tabung. Katanya supaya kebagian semua,” beber Hariyadi.
Meski memahami alasan pembatasan tersebut, ia tetap khawatir jika pasokan tidak segera normal.
“Kalau stok terus kosong seperti ini, masyarakat pasti semakin kesulitan,” tambahnya.
Kelangkaan meluas, pemerintah wajib turun tangan. Fenomena warga yang berburu gas hingga lintas kecamatan menunjukkan bahwa kelangkaan LPG 3 kilogram di Lumajang sudah berada pada tahap mengkhawatirkan.
Gas bersubsidi yang seharusnya menjadi penopang kebutuhan rumah tangga miskin dan usaha mikro kini semakin sulit diakses, bahkan di pangkalan resmi sekalipun.
Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan hanya aktivitas dapur rumah tangga yang terganggu, tetapi juga roda ekonomi pedagang kecil yang bergantung pada gas melon.
Masyarakat kini berharap pemerintah segera turun tangan melakukan pengecekan distribusi dan pengawasan ketat, agar pasokan LPG 3 kilogram kembali normal dan tidak terjadi lonjakan harga liar di tingkat pengecer.


















