Wali Kota Batu, Nurochman menegaskan, bahwa keberhasilan program JKN membutuhkan kolaborasi seluruh pihak. Mulai dari camat, kepala desa, lurah hingga media memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
“Pemerintah Kota Batu ingin membangun ekosistem kesehatan yang kuat sebagai bagian dari visi Batu SAE. Karena itu akses pelayanan kesehatan harus semakin merata dan masyarakat juga didorong lebih aktif menjaga kesehatan,” ujar Nurochman.
Cak Nur juga menyoroti kondisi sejumlah Posyandu di lapangan yang masih kekurangan alat kesehatan. Bahkan ada yang masih menggunakan peralatan pinjaman.
“Pemerintah hadir untuk memastikan fasilitas kesehatan dasar, khususnya di Posyandu desa dan kelurahan, dapat terpenuhi secara merata. Kami berkomitmen melengkapi peralatan di seluruh titik layanan tersebut,” tegasnya.
Salah satu terobosan yang sedang dijalankan adalah penempatan dokter di Pondok Bersalin Desa (Polindes). Saat ini, sebanyak 18 dokter telah ditempatkan untuk melayani 18 desa dari total sekitar 24 desa dan kelurahan di Kota Batu.
Langkah tersebut menjadi perubahan penting karena sebelumnya sebagian besar Polindes hanya dilayani tenaga kesehatan non-dokter. Kini masyarakat dapat mengakses layanan dokter di Polindes minimal tiga hari dalam seminggu.
Ke depan, Polindes juga direncanakan akan dikembangkan menjadi fasilitas layanan kesehatan yang lebih lengkap dengan tambahan tenaga medis dan peralatan. Tujuannya untuk mengurangi beban pelayanan di Puskesmas.
Bagi masyarakat yang kesulitan datang ke fasilitas kesehatan, Pemkot Batu juga menjalankan program layanan kunjungan rumah (home care) yang dioperasikan oleh Puskesmas.
Program ini bahkan terintegrasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah lain, termasuk dinas sosial. Integrasi tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan warga kurang mampu atau masyarakat yang membutuhkan bantuan medis darurat.
Selain pendekatan kuratif, Pemkot Batu juga memperkuat program promotif dan preventif. Salah satunya dengan rencana pembangunan Taman Sehat di desa-desa sebagai ruang publik untuk aktivitas olahraga masyarakat.
“Harapannya masyarakat semakin aktif berolahraga, seperti jalan kaki atau aktivitas fisik lainnya. Karena kesehatan adalah fondasi utama produktivitas,” tandasnya.


















