BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Penguatan profesi insinyur kembali menjadi perhatian serius Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Kampus teknologi itu tengah menyiapkan skema percepatan pendidikan profesi insinyur bagi lulusan sarjana teknik agar dapat diselesaikan dalam waktu lebih ringkas.
Gagasan itu mengemuka dalam Dialog Keinsinyuran yang diselenggarakan Program Studi Program Profesi Insinyur ITS bersama Persatuan Insinyur Indonesia di Gedung Rektorat ITS, Jumat (13/3/2026) sore.
Rektor ITS, Bambang Pramujati, menyebut percepatan jalur profesi menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan jumlah insinyur profesional di Indonesia.
Selama ini jumlah lulusan sarjana teknik tergolong besar, namun tidak semua melanjutkan hingga memperoleh kualifikasi profesi insinyur.
“Lulusan sarjana teknik sebenarnya cukup banyak, tetapi yang melanjutkan hingga menjadi insinyur masih relatif sedikit,” ujarnya.
Melalui skema yang tengah dikaji tersebut, lulusan sarjana teknik berpeluang langsung melanjutkan pendidikan profesi insinyur dengan durasi sekitar satu tahun.
Dengan pola tersebut, mahasiswa diproyeksikan dapat menuntaskan pendidikan sarjana dan profesi insinyur dalam waktu sekitar lima tahun.
Menurut Bambang, percepatan ini penting untuk memperkuat kapasitas sumber daya insinyur di Indonesia. Ia optimistis program tersebut dapat mendorong peningkatan Engineering Index pemerintah hingga mencapai 28 persen.
Di sisi lain, perubahan lanskap teknologi juga menuntut transformasi dalam praktik keinsinyuran. Insinyur masa depan tidak cukup hanya menguasai kemampuan teknis, tetapi juga harus memahami pendekatan multidisipliner seperti STEM, efisiensi energi, serta teknologi cerdas.
Selain itu, praktik keinsinyuran juga diharapkan semakin inklusif, termasuk memperhatikan kesetaraan gender serta akses bagi penyandang disabilitas.
Bambang menegaskan bahwa pendidikan profesi insinyur bukan sekadar formalitas administratif. Program tersebut merupakan pintu utama dalam memastikan praktik keinsinyuran berjalan secara profesional.
“Akselerasi perlu dilakukan agar Indonesia mampu menyiapkan insinyur paripurna yang mendukung visi Indonesia Emas,” ujarnya.
Guru Besar Teknik Mesin ITS itu juga menyoroti sejumlah tantangan yang kini dihadapi dunia keinsinyuran. Mulai dari kesenjangan antara inovasi akademik dengan kebutuhan industri hingga pentingnya menjaga integritas serta etika profesi di tengah percepatan perkembangan teknologi.
Menurutnya, insinyur harus mampu merespons perubahan tersebut melalui inovasi yang tetap berpijak pada tanggung jawab sosial.
Sejalan dengan agenda tersebut, ITS juga berencana membahas penerapan World Engineering Forum Government.
Engineering Index pada tahun ini. Indeks tersebut akan digunakan untuk mengukur praktik keinsinyuran dalam pembangunan daerah sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia, Agus Taufik Mulyono, menekankan bahwa profesi insinyur memegang peran vital dalam memastikan keselamatan, kesehatan, serta keberlanjutan pembangunan bagi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa praktik keinsinyuran harus dijalankan oleh tenaga profesional yang memiliki kompetensi serta mematuhi kode etik profesi.
“Praktik keinsinyuran harus dijalankan oleh tenaga profesional yang memiliki kompetensi serta mematuhi kode etik profesi,” tegasnya.
Dialog keinsinyuran tersebut sekaligus memperkuat komitmen ITS dalam mendukung agenda pembangunan global melalui United Nations pada program Sustainable Development Goals, terutama pada tujuan pendidikan berkualitas, penguatan industri dan inovasi, serta kemitraan dalam pembangunan berkelanjutan.


















