Pemuda

Dalang Muda ITS Berdarah Tionghoa Raih Prestasi Internasional, Kembangkan Startup Jamu

18
×

Dalang Muda ITS Berdarah Tionghoa Raih Prestasi Internasional, Kembangkan Startup Jamu

Sebarkan artikel ini
ITS
Penampilan Christopher Jason Santoso saat menjadi dalang pada pagelaran See You Soon 2023 di Tower 2 ITS

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Dunia pewayangan kerap dilekatkan pada tradisi Jawa yang kental dan diwariskan turun-temurun. Namun batas-batas identitas itu tak berlaku bagi Christopher Jason Santoso, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang memilih menapaki jalan sebagai dalang sekaligus peneliti sosial.

Mahasiswa Program Studi S1 Studi Pembangunan angkatan 2022 itu mulai mengenal wayang sejak duduk di bangku sekolah dasar. Sebuah tugas pagelaran sederhana justru menjadi titik awal ketertarikannya.

“Dari awal, saat mengerjakan tugas itu saya merasa ini adalah sesuatu yang unik dan menarik untuk dipelajari,” ujarnya mengenang.

Minat tersebut tumbuh menjadi komitmen. Dengan dukungan keluarga, Christopher bergabung dengan sebuah sanggar di Surabaya untuk memperdalam teknik pedalangan.

Di sana ia berhadapan dengan kenyataan yang tak mudah. Ia mengalami rhotasisme—kesulitan melafalkan huruf R—yang kerap menjadi bahan celaan. Selain itu, ia juga sempat merasakan penolakan karena latar belakang etnis Tionghoa yang melekat padanya sejak kecil.

Pengalaman itu membuatnya sempat menjauh dari dunia yang ia cintai. Namun jarak tersebut tak berlangsung lama. Ia kembali belajar secara otodidak melalui buku dan media sosial. Ketekunannya membuahkan hasil.

Dalam acara See You Soon 2023 di Tower 2 ITS, ia membawakan cerita wayang dalam tiga bahasa: Inggris, Jawa, dan Mandarin.

“Saya sempat berhenti mendalang, tapi kembali belajar wayang karena ini warisan budaya Indonesia untuk semua tanpa memandang perbedaan apapun,” katanya.

Ketertarikan Christopher pada isu budaya tak berhenti di panggung. Di ruang akademik, ia meneliti persoalan inklusi sosial.

Tugas akhirnya berjudul Pembangunan Inklusi Sosial di Kota Surabaya: Studi Fenomenologi Diskriminasi Interseksionalistik terhadap Penutur dengan Rhotasisme.

Penelitian itu menyoroti pengalaman diskriminasi yang dialami individu dengan gangguan pelafalan dalam ruang sosial perkotaan.

Salah satu risetnya membawanya menjadi pembicara dalam International Symposium on Javanese Culture 2024, forum yang mempertemukan akademisi dan pemerhati budaya dari berbagai negara.

“Bahkan, salah satu penelitian saya telah mengantarkan saya menjadi pembicara dalam forum bertaraf dunia,” ujarnya.

Di luar aktivitas akademik dan seni, Christopher juga merintis usaha rintisan minuman jamu modern bernama Herbits.

Startup tersebut memperoleh pendanaan dari Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha 2023 serta ITS Youth Technopreneur 2023–2024. Ia melihat adanya jarak antara generasi muda dan tradisi konsumsi jamu.

“Anak muda jarang minum jamu, jadi saya dan tim mengembangkan inovasi Herbits sebagai jamu modern,” tuturnya.

Jejaknya meluas ke panggung internasional. Ia pernah mewakili ITS dan Indonesia sebagai Champion of ASEAN Future Innovators Challenge di Malaysia.

Ia juga terlibat dalam Asia Youth Sustainability Forum 2025, Youth Asian-African Legal Consultative Organization 2023, serta Smart Ocean Summer School di Tianjin University, Cina.

Meski jadwal akademik dan kegiatan internasionalnya padat, Christopher masih aktif menerima undangan mendalang. Ia pernah tampil dalam TEDxITS 2024 Special Performance di Milieu Space, Surabaya. Ia mengagumi sejumlah dalang seperti Ki Nartosabdo, Ki Purbo Asmoro, dan Ki Tristuti Rachmadi, yang menurutnya berhasil menjaga pakem sekaligus memberi tafsir baru pada tradisi.

Di tengah kesibukan itu, ia menyimpan cita-cita menjadi peneliti yang menaruh perhatian pada isu pembangunan dan inklusi sosial.

Baginya, pengalaman pribadi menjadi pintu masuk untuk membaca persoalan yang lebih luas tentang keberagaman, akses, dan kesempatan di ruang publik.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60