BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Pengembangan infrastruktur kereta cepat di Indonesia kembali mendapat suntikan gagasan dari ranah akademik. Melalui disertasi doktoral di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr. Danny Triputra Setiamanah menawarkan inovasi desain slab track berbasis material maju dan sistem panel modular sebagai alternatif pengembangan konstruksi rel cepat nasional.
Slab track merupakan elemen struktural yang berfungsi sebagai landasan rel pada sistem kereta api berkecepatan tinggi. Sistem ini telah diterapkan pada proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung dan dikenal memiliki tingkat kekakuan tinggi guna menjamin stabilitas perjalanan.
Namun, di Indonesia, riset komprehensif mengenai desain slab track masih terbatas dan belum tersedia Standar Nasional Indonesia yang secara khusus mengatur perancangannya.
Danny menilai kondisi tersebut menuntut pengembangan desain yang lebih adaptif terhadap karakteristik teknis dan kebutuhan jangka panjang.
Penelitian yang ia lakukan bertujuan menunjukkan kesiapan institusi pendidikan tinggi dalam mendukung pengembangan kereta cepat secara mandiri.
Menurut dia, kekakuan tinggi pada slab track membawa konsekuensi pada tuntutan presisi konstruksi dan perawatan.
Sistem ini membutuhkan kontrol retak dan ketahanan lelah yang baik agar mampu menahan beban berulang dalam jangka panjang.
Tanpa pendekatan desain yang tepat, biaya konstruksi dan pemeliharaan dapat meningkat signifikan.
Dalam disertasi berjudul Fatigue Performance of Fiber Reinforced Concrete Slab Track, Danny mengembangkan rancangan slab track dengan memanfaatkan beton serat berbahan campuran serat baja dan serat polypropylene.
Ia juga memperkenalkan konsep panel modular selebar 60 sentimeter. Pendekatan ini dirancang untuk meningkatkan durabilitas sekaligus mempermudah proses perawatan melalui penggantian komponen secara parsial.
Pemanfaatan material serat pada beton bertujuan memperkuat mekanisme bridging effect, yakni kemampuan serat menjembatani retakan mikro sehingga mencegah propagasi retak yang lebih luas.
Dengan mekanisme tersebut, kontrol distribusi retak menjadi lebih stabil dan kinerja struktur pada fase pasca-retak tetap terjaga.
Danny menjelaskan bahwa kombinasi material maju dan sistem panel modular dipilih berdasarkan pertimbangan efisiensi dan keberlanjutan.

Sistem panel memungkinkan intervensi perawatan dilakukan pada bagian tertentu tanpa membongkar keseluruhan struktur. Pendekatan ini dinilai dapat menekan kebutuhan perawatan berkala sekaligus mengurangi biaya pemeliharaan.
Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan performa signifikan dibandingkan prototipe referensi, terutama pada aspek kontrol dan distribusi retak serta stabilitas perilaku pasca-retak.
Meskipun pelat dirancang lebih tipis dan rasio tulangan lebih kecil, performa fatigue tetap kompetitif dan bahkan menunjukkan perbaikan pada pengendalian retak.
Ia juga mencatat potensi efisiensi biaya material sekitar 10 hingga 15 persen dibandingkan sistem konvensional.
Efisiensi tersebut diperoleh melalui optimasi ketebalan pelat dan rasionalisasi penggunaan tulangan tanpa mengorbankan kapasitas struktural.
Pengujian laboratorium memperlihatkan desain slab track yang dikembangkan lebih adaptif terhadap beban berulang jangka panjang, sebuah karakteristik krusial dalam sistem kereta cepat yang beroperasi dengan frekuensi tinggi.
Temuan ini membuka ruang bagi penyusunan kerangka ilmiah dalam perumusan standar nasional desain slab track di Indonesia.
Danny berharap inovasi tersebut dapat diimplementasikan pada proyek-proyek kereta cepat mendatang dan berkontribusi pada penguatan kemandirian teknologi transportasi berbasis riset domestik.
Penelitian ini juga menjadi bagian dari dukungan perguruan tinggi terhadap agenda pembangunan industri, inovasi, dan infrastruktur berkelanjutan dalam kerangka Sustainable Development Goals.


















