Terkini

Evaluasi Program Bangga Kencana 2025, BKKBN Jatim Catat TFR 1,96 dan Stunting 14,7 Persen

22
×

Evaluasi Program Bangga Kencana 2025, BKKBN Jatim Catat TFR 1,96 dan Stunting 14,7 Persen

Sebarkan artikel ini
BKKBN

BERITABANGSA.ID, SURABAYA — Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Perwakilan Jawa Timur menggelar Rapat Evaluasi Program Bangga Kencana Tahun 2025 dengan tema Konsolidasi dan Penguatan Sinergi antara Perwakilan BKKBN Jawa Timur dan Organisasi Perangkat Daerah Keluarga Berencana kabupaten/kota.

Forum ini menjadi ruang konsolidasi sekaligus penilaian capaian program kependudukan dan pembangunan keluarga di tingkat daerah.

Kegiatan ini dihadiri Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur yang juga menjabat Pelaksana Tugas Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/BKKBN, Maria Ernawati, Penjabat Kepala Perwakilan Sukamto, Sekretaris Perwakilan Ghana Renaldi Pasca Surya, jajaran ketua tim kerja, serta kepala OPD KB dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur. Diskusi dipandu akademisi kesehatan masyarakat Lutfi Agus Salim.

Agenda evaluasi ini dirangkaikan dengan purna bakti Maria Ernawati setelah memimpin penguatan Program Bangga Kencana di Jawa Timur.

Dalam sambutannya, ia menyatakan pertemuan tersebut tidak semata mengevaluasi capaian, tetapi juga merumuskan langkah strategis untuk tahun berjalan.

Menurut Maria, sejumlah indikator utama menunjukkan hasil yang relatif stabil. Total Fertility Rate atau angka kelahiran total di Jawa Timur tercatat 1,96.

Angka ini dinilai mencerminkan stabilitas demografi, sekaligus mendekati angka penggantian penduduk.

Ia menekankan bahwa capaian tersebut tidak berdiri sendiri. Sinergi antara perwakilan provinsi dan OPD KB kabupaten/kota disebut menjadi faktor kunci dalam pengelolaan Program Bangga Kencana di daerah.

Selain stabilitas demografi, kementerian menetapkan pembangunan keluarga berbasis siklus hidup sebagai fokus utama.

Pendampingan dilakukan sejak fase balita, remaja, hingga lanjut usia. Pendekatan ini dirancang untuk memastikan intervensi berjalan berkelanjutan dan terintegrasi.

Dalam isu percepatan penurunan stunting, Jawa Timur mencatat prevalensi 14,7 persen. Angka tersebut berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 19,8 persen.

Capaian ini dipandang sebagai indikator komitmen daerah dalam mendukung target nasional penurunan stunting.

Maria juga menyoroti penguatan delapan fungsi keluarga, mulai dari fungsi keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, hingga pembinaan lingkungan.

Ia menyebut fungsi lingkungan kian relevan, mengingat sekitar 60 persen sampah harian bersumber dari rumah tangga.

Edukasi pengelolaan sampah berbasis keluarga dinilai sebagai bagian dari agenda strategis nasional.

Persoalan perkawinan anak turut menjadi perhatian dalam evaluasi tersebut. Berdasarkan data yang dipaparkan, terdapat sekitar 3.900 kasus perkawinan anak di Jawa Timur.

Pernikahan di bawah usia 19 tahun dinilai berisiko meningkatkan potensi stunting, perceraian, dan melemahnya ketahanan keluarga.

Sebagai respons, BKKBN memperkuat sejumlah intervensi, antara lain melalui program Sekolah Orang Tua Hebat, Bina Keluarga Remaja, serta pendampingan keluarga berisiko. Program-program tersebut diarahkan untuk meningkatkan literasi pengasuhan, kesiapan berkeluarga, serta kesadaran remaja mengenai perencanaan kehidupan berkeluarga.

Rapat evaluasi ini menjadi forum penyelarasan strategi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota. Konsolidasi tersebut diharapkan memperkuat efektivitas dan adaptivitas Program Bangga Kencana di Jawa Timur dalam menghadapi dinamika kependudukan dan tantangan pembangunan keluarga.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60