BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Inovasi teknologi kebencanaan kembali lahir dari jejaring alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di kancah internasional.
Prof Dr Bhakti Stephan Onggo PhD, alumnus Teknik Informatika ITS yang kini menjadi profesor di University of Southampton, Inggris, mengembangkan teknologi digital twins untuk memperkuat sistem mitigasi dan respons bencana berbasis data real-time.
Digital twins merupakan representasi digital dari sistem nyata yang terhubung langsung dengan kondisi lapangan.
Teknologi ini memungkinkan proses simulasi, analisis, hingga pengambilan keputusan dilakukan secara dinamis.
Dalam konteks kebencanaan, pendekatan tersebut digunakan untuk memprediksi berbagai skenario, memperkirakan risiko, serta menentukan langkah penyelamatan yang paling efektif.
Bhakti memulai perjalanan akademiknya di Jurusan Teknik Komputer ITS pada akhir 1980-an. Di tengah keterbatasan fasilitas saat itu, ia dan rekan-rekannya terbiasa mencari solusi secara mandiri.
Lingkungan tersebut membentuk pola pikir sistematis dan ketahanan akademik yang kemudian menjadi bekal saat melanjutkan studi magister di Lancaster University pada bidang Operations Research.
Ia kemudian meraih gelar doktor di National University of Singapore (NUS) dalam bidang Computer Science.
Karier akademiknya berlanjut melalui riset postdoctoral di Inggris, menjadi Assistant Professor, kemudian Associate Professor di Trinity College Dublin, Irlandia, hingga akhirnya dikukuhkan sebagai profesor di Southampton dalam bidang Business Analytics.
Kolaborasi risetnya dengan Departemen Teknik Geomatika ITS dan Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS melahirkan dua aplikasi utama digital twins untuk kebencanaan.
Pertama, sistem yang memprioritaskan penyelamatan korban secara cepat dan terukur. Kedua, sistem yang mengoptimalkan distribusi bantuan agar tepat sasaran.
Teknologi tersebut dirancang dengan fokus khusus pada populasi rentan, seperti ibu hamil dan anak-anak.
Melalui integrasi data real-time, sistem dapat memperbarui informasi mengenai lokasi terdampak, kondisi infrastruktur, kapasitas fasilitas darurat, hingga jalur distribusi logistik.
Dengan demikian, pengambil kebijakan memiliki dasar analisis yang lebih akurat dalam menentukan langkah respons.
Bhakti menjelaskan bahwa metode simulasi konvensional umumnya bersifat statis dan belum sepenuhnya mengakomodasi dinamika lapangan.
Integrasi digital twins menghadirkan model yang adaptif terhadap perubahan situasi. Setiap pembaruan data dapat langsung memengaruhi hasil simulasi dan rekomendasi kebijakan.
Bagi Bhakti, kemampuan berpikir logis dan kritis yang dibentuk selama kuliah di ITS menjadi fondasi penting dalam pengembangan risetnya.
Pendekatan analitis tersebut tidak hanya relevan dalam laboratorium, tetapi juga dalam membaca kompleksitas persoalan publik, termasuk di tengah derasnya arus informasi digital.
Melalui jejaring akademik internasional, kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara terus diperkuat untuk mengembangkan teknologi kebencanaan yang lebih presisi dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat terdampak.


















