BERITABANGSA.ID, LUMAJANG — Hilangnya susu UHT di pasaran Lumajang, berdampak pada Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) untuk menu pendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Untuk menyiasatinya, sejumlah SPPG kini beralih menggunakan susu pasteurisasi kemasan gelas plastik.
Dari informasi yang dihimpun awak media, susu pasteurisasi dinilai memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan susu UHT, khususnya dari sisi rasa, aroma, dan kualitas nutrisi alami. Proses pemanasan susu pasteurisasi yang berada pada kisaran suhu 72–80 derajat Celsius membuat kandungan gizi, seperti kalsium dan vitamin, lebih terjaga dan mudah diserap tubuh.
“Pasteurisasi mempertahankan nutrisi alami dan enzim lebih baik karena tidak melalui pemanasan suhu tinggi. Sementara UHT dipanaskan pada suhu 135–150 derajat Celsius, sehingga ada sedikit penurunan nutrisi, meski secara umum masih aman dikonsumsi,” ujar salah satu sumber yang memahami proses pengolahan susu dari CV Cita Nusantara, Kamis (29/1/2026).
Dari segi rasa dan tekstur, susu pasteurisasi dikenal memiliki cita rasa yang lebih segar dan alami, menyerupai susu segar. Berbeda dengan susu UHT yang kerap memiliki rasa lebih creamy atau sedikit “matang” akibat proses pemanasan tinggi. Namun demikian, dari sisi kepraktisan, susu UHT masih unggul karena dapat disimpan dalam waktu lama pada suhu ruang, sementara susu pasteurisasi harus disimpan di dalam lemari pendingin dan memiliki masa simpan yang lebih pendek.
Terkait keamanan, kedua jenis susu tersebut sama-sama aman untuk dikonsumsi. Pasteurisasi efektif membunuh bakteri patogen tanpa menghilangkan seluruh bakteri baik, sedangkan proses UHT mensterilkan susu secara menyeluruh.
Pemerhati program MBG Achmad Nurhuda, menilai kondisi kelangkaan susu UHT justru membuka peluang bagi produk susu pasteurisasi untuk lebih diterima masyarakat.
“Dengan adanya kekosongan susu UHT di pasaran, ini menjadi momentum bagi susu pasteurisasi untuk masuk dan diterima lebih luas. Apalagi dari sisi harga, susu pasteurisasi relatif lebih murah,” kata Achmad Nurhuda kepada media ini.
Ia menambahkan, pihaknya bersama Koperasi Pemasaran Mitra Nusa Mandiri siap menjalin kerja sama dengan SPPG yang membutuhkan pasokan susu pasteurisasi.
“Kami terbuka untuk kerja sama kontrak jangka pendek maupun jangka panjang, agar kebutuhan susu dalam program MBG tetap terpenuhi,” pungkasnya.
Dengan kondisi ini, peralihan sementara ke susu pasteurisasi diharapkan dapat menjadi solusi praktis di tengah kelangkaan susu UHT, sekaligus tetap menjaga asupan gizi bagi penerima manfaat program MBG.
>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id.


















