Pemerintahan

Dorong Cinta Produk Lokal, Wiwin Sumrambah Kunjungi Batik New Colet Jombang

15
×

Dorong Cinta Produk Lokal, Wiwin Sumrambah Kunjungi Batik New Colet Jombang

Sebarkan artikel ini
Wiwin
Tampak Wiwin Sumrambah, Wakil Rakyat Jatim saat Kunjungi Batik New Colet Jatipelem Jombang. Foto: Faiz Beritabangsa.id.

BERITABANGSA.ID, JOMBANG – Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Wiwin Sumrambah menunjukkan dukungannya terhadap pelaku UMKM lokal dengan mengunjungi sentra Batik New Colet di Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Jombang, Sabtu (8/11/2025) siang. Kunjungan itu bukan sekadar silaturahmi, melainkan juga wujud kepedulian terhadap pelestarian batik khas Jombang yang masih digarap secara manual.

Batik New Colet dikenal dengan motif khasnya yang sarat filosofi lokal. Seperti motif jati dan buah mangga, dua ikon yang merepresentasikan kekuatan serta kemakmuran. Di tempat itu, Wiwin tampak antusias meninjau proses pembuatan batik mulai dari mencanting hingga pewarnaan.

“Bagus sekali. Ini jenis usaha yang wajib kita dukung, baik dalam pemasaran maupun pengembangannya. Selain motifnya menarik dan penuh makna, proses pembuatannya juga tetap mempertahankan cara manual,” ujar Wiwin sembari mencoba mencanting kain putih.

Politisi PDI Perjuangan itu bahkan sempat membeli beberapa potong batik tulis New Colet. Menurutnya, kualitas dan kenyamanan kain buatan tangan lokal tak kalah dengan produk pabrikan.

“Saya lebih tertarik batik tulisnya, apalagi motif jati dan mangga. Kainnya adem dan halus saat dipakai,” tuturnya.

Tak hanya berbelanja, istri mantan Wakil Bupati Jombang Sumrambah itu juga membuat konten promosi di lokasi. Ia berharap langkah kecilnya bisa membantu memperluas jangkauan pasar batik khas Jombang.

“Kita harus mencintai produk lokal. Banyak karya tradisional yang tak kalah menarik dari produk luar. Kalau bukan kita yang mulai, siapa lagi?” tegas Wiwin.

Sementara itu, Sutrisno, pemilik Batik New Colet, menceritakan perjalanan usahanya yang dimulai sejak tahun 2008. Nama “New Colet” terinspirasi dari teknik nyolet, yakni cara membubuhkan warna pada kain batik secara manual.

“Saya dulu pekerja batik sejak tahun 2000, lalu memberanikan diri membuka usaha sendiri. Dari dulu kami tetap mempertahankan cara tradisional, dari mencanting sampai pewarnaan,” kata Sutrisno.

Di tengah gempuran batik printing, Sutrisno tetap setia pada produksi batik cap dan tulis. Ia mengaku terus berinovasi menghadirkan motif baru agar bisa bersaing di pasaran.

“Ide harus terus muncul karena saingannya banyak. Tapi kami tetap percaya diri dengan ciri khas motif lokal Jombang,” ujarnya.

Harga batik buatannya bervariasi, mulai Rp120 ribu hingga Rp3 juta per potong, tergantung tingkat kesulitan dan bahan kain yang digunakan.

“Yang penting kami tetap jaga kualitas dan makna dari setiap motif yang kami buat,” pungkasnya.

>>> Klik berita lainnya di news google beritabangsa.id.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60