Pendidikan

Unusa Bangun Ekosistem Pesantren Peduli Kesehatan Mental

13
×

Unusa Bangun Ekosistem Pesantren Peduli Kesehatan Mental

Sebarkan artikel ini
Unusa

BERITABANGSA.ID, SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) terus menegaskan komitmennya dalam memperkuat peran perguruan tinggi terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di kalangan remaja pesantren.

Bersama Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan serta Center for Public Mental Health (CPMH), Unusa menggelar Kampanye Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) yang melibatkan lima pondok pesantren di Kabupaten Sidoarjo.

Kelima pesantren tersebut adalah Pondok Pesantren Al Hidayah, As-Syafiiyah, Jabal Noer, Burhanul Hidayah, dan Mambaul Ulum Panjunan.

Program ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan warga pesantren, baik santri, pengasuh, maupun tenaga pendidik, dalam mengenali tanda-tanda gangguan psikologis serta memberikan pertolongan awal (first psychological aid) bagi santri yang mengalami tekanan emosional.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, dokter Imran Pambudi, menekankan bahwa kesehatan jiwa merupakan aspek fundamental yang berpengaruh langsung terhadap kualitas hidup dan produktivitas masyarakat.

Ia menyampaikan bahwa populasi usia produktif di Indonesia, yakni kelompok usia 15 hingga 64 tahun, mencapai 69,51 persen dari total penduduk.

Sebagian besar kelompok tersebut berada di lingkungan pendidikan, termasuk pesantren, sehingga berpotensi menghadapi tekanan psikologis apabila tidak mendapatkan dukungan yang memadai.

“Program ini menjadi momentum kolaborasi luar biasa antara Kementerian Kesehatan dan institusi pendidikan, khususnya Unusa, dalam memperkuat upaya peningkatan kesehatan jiwa di kalangan pelajar dan santri. Harapannya, kegiatan ini menjadi langkah awal membangun pesantren yang ramah kesehatan mental,” ujar dr. Imran.

Salah satu narasumber dalam kegiatan ini, dokter Paramita Sari, dosen Fakultas Kedokteran Unusa, membawakan materi berjudul Mental Health pada Remaja.

Ia menjelaskan bahwa remaja di pesantren menghadapi tantangan khas seperti adaptasi terhadap kehidupan komunal, tuntutan akademik, serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mental.

“Luka psikologis sering kali tidak terlihat, namun dapat berdampak panjang terhadap perilaku, prestasi belajar, hingga relasi sosial. Karena itu, perlu pendekatan sesuai nilai-nilai pesantren untuk membantu mereka mengelola stres dan emosi,” jelas Paramita.

>>> Ikuti saluran whatsapp beritabangsa.id
Example 300250Example 468x60